Category Archives: Pertanian

Segarnya Budidaya Kangkung Darat


Tidak asing lagi kangkung telah
menjadi sayuran yang sudah biasa
menjadi santapan sehari-hari.
Berbagai masakan dari sayur yang
satu ini kerap menghiasi hidangan di
rumah makan atau di rumah-rumah.
Karena dianggap hal yang biasa
maka tidak banyak yang melirik
potensi bisnis kangkung. Pada
dasarnya ada dua jenis sayuran
kangkung yang saat ini diperjual
belikan yaitu kangkung air dan
kangkung darat. Kangkung yang
kedua ini sering pula disebut dengan
kangkung cabut.
Jika anda berminat dalam bisnis
budidaya kangkung namun tidak
memiliki lahan perairan, tidak perlu
khawatir, anda bisa mencoba
budidaya
Kangkung darat atau
kangkung cabut. Kangkung darat
atau kangkung cabut biasa ditanam
dari biji dan setelah cukup umur
akan dipanen dengan cara
mencabut. Meski namanya kangkung
cabut namun anda tidak harus
mencabut kangkung satu persatu,
anda bisa memotongnya dan
kangkung akan tumbuh kembali
untuk dipanen lagi saat sudah masa
panen. Jadi tidak harus selalu invest
membeli benih lagi.
Untuk memulai budidaya kangkung
darat yang perlu dipersiapkan adalah
lahan untuk menanam. Tanaman
kangkung darat dapat dibudidayakan
pada areal persawahan atau lahan di
pekarangan yang tidak terpakai.
Yang penting diperhatikan lahan
harus cukup gembur dan subur.
Tambahkan pupuk kandang pada
lahan untuk menambah kesuburan
tanah. Jika tidak ada pupuk kandang
bisa menggunakan pupuk kimia,
tetapi pupuk kandang lebih baik dan
ideal.
Setelah lahan siap tebarkan biji
kangkung darat pada lahan, jika
anda telaten bisa diatur agar pola
penyebaran biji kangkung merata
dan tidak saling berhimpitan. Biji
Kangkung darat bisa anda dapatkan
pada toko-toko pertanian. Setelah
biji kangkung ditebarkan, upayakan
tanah dalam kondisi lembab dengan
menyiram air secara berkala jika
tidak sedang musim penghujan.
Pada usia 3-4 hari biji kangkung darat
akan mulai tumbuh menjadi
kecambah dan perlahan-lahan
bertambah ukurannya. Hingga usia
kurang lebih 25 hari kangkung darat
sudah bisa dipanen dan dipasarkan.
Pemanenan bisa dilakukan dengan
mencabut atau memotong batang
kangkung. Tunggu hingga potongan
batang kangkung tumbuh kembai
dan siap dipanen. Yang penting
diperhatikan adalah pemberian
pupuk tambahan setelah masa panen
karena akan menunjang
pertumbuhan sayuran kangkung
secara lebih baik.
Perawatan budidaya kangkung darat
atau kangkung cabut ini relatif
mudah. Anda hanya perlu menyirami
tanaman kangkung jika kurang air
karena pada dasarnya tanaman
kangkung memerlukan cukup banyak
air. Selain itu perlu diwaspadai hama
yang sering menyerang tanaman
kangkung yaitu belalang dan ulat.
Cara mengatasinya bisa
disemprotkan insektisida, lebih baik
lagi insektisida organik. Selamat
Mencoba.
Sumber: galeriukm

Segarnya Budidaya Kangkung Darat


Tidak asing lagi kangkung telah
menjadi sayuran yang sudah biasa
menjadi santapan sehari-hari.
Berbagai masakan dari sayur yang
satu ini kerap menghiasi hidangan di
rumah makan atau di rumah-rumah.
Karena dianggap hal yang biasa
maka tidak banyak yang melirik
potensi bisnis kangkung. Pada
dasarnya ada dua jenis sayuran
kangkung yang saat ini diperjual
belikan yaitu kangkung air dan
kangkung darat. Kangkung yang
kedua ini sering pula disebut dengan
kangkung cabut.
Jika anda berminat dalam bisnis
budidaya kangkung namun tidak
memiliki lahan perairan, tidak perlu
khawatir, anda bisa mencoba
budidaya
Kangkung darat atau
kangkung cabut. Kangkung darat
atau kangkung cabut biasa ditanam
dari biji dan setelah cukup umur
akan dipanen dengan cara
mencabut. Meski namanya kangkung
cabut namun anda tidak harus
mencabut kangkung satu persatu,
anda bisa memotongnya dan
kangkung akan tumbuh kembali
untuk dipanen lagi saat sudah masa
panen. Jadi tidak harus selalu invest
membeli benih lagi.
Untuk memulai budidaya kangkung
darat yang perlu dipersiapkan adalah
lahan untuk menanam. Tanaman
kangkung darat dapat dibudidayakan
pada areal persawahan atau lahan di
pekarangan yang tidak terpakai.
Yang penting diperhatikan lahan
harus cukup gembur dan subur.
Tambahkan pupuk kandang pada
lahan untuk menambah kesuburan
tanah. Jika tidak ada pupuk kandang
bisa menggunakan pupuk kimia,
tetapi pupuk kandang lebih baik dan
ideal.
Setelah lahan siap tebarkan biji
kangkung darat pada lahan, jika
anda telaten bisa diatur agar pola
penyebaran biji kangkung merata
dan tidak saling berhimpitan. Biji
Kangkung darat bisa anda dapatkan
pada toko-toko pertanian. Setelah
biji kangkung ditebarkan, upayakan
tanah dalam kondisi lembab dengan
menyiram air secara berkala jika
tidak sedang musim penghujan.
Pada usia 3-4 hari biji kangkung darat
akan mulai tumbuh menjadi
kecambah dan perlahan-lahan
bertambah ukurannya. Hingga usia
kurang lebih 25 hari kangkung darat
sudah bisa dipanen dan dipasarkan.
Pemanenan bisa dilakukan dengan
mencabut atau memotong batang
kangkung. Tunggu hingga potongan
batang kangkung tumbuh kembai
dan siap dipanen. Yang penting
diperhatikan adalah pemberian
pupuk tambahan setelah masa panen
karena akan menunjang
pertumbuhan sayuran kangkung
secara lebih baik.
Perawatan budidaya kangkung darat
atau kangkung cabut ini relatif
mudah. Anda hanya perlu menyirami
tanaman kangkung jika kurang air
karena pada dasarnya tanaman
kangkung memerlukan cukup banyak
air. Selain itu perlu diwaspadai hama
yang sering menyerang tanaman
kangkung yaitu belalang dan ulat.
Cara mengatasinya bisa
disemprotkan insektisida, lebih baik
lagi insektisida organik. Selamat
Mencoba.

Sumber: Galeriukm

Bisnis Jamur Tiram Mengubah Sopir Menjadi Pengusaha


berbisnis Jamur tiramSukses
ternyata telah mengubah nasib Pak
Kaiman dari Sopir menjadi
enterpreneur yang cukup sukses.
Kesuksesan Pak Kaiman menambah
deretan
orang yang menekuni bisnis
jamur Tiram. Perjalanan Bisnis Jamur
tiram bapak dua anak ini telah
dimulai sejak 2005 dengan susah
payah. Berkat kerja kerasnya kini
secara rutin ia telah memasok jamur
tiram ke pelanggan rata-rata 100 kg/
hari dengan harga jual Rp10.000/kg
serta 1.000 unit baglog/media tanam
dengan harga jual Rp2.250 per unit.
Kesuksesan usaha jamur tiram Pak
Kaiman tidak lepas dari pembinaan
dari PT HM Sampoerna Tbk
mencakup bantuan peralatan,
manajemen serta promosi.
Sebelum menjadi pengusaha jamur
tiram ia berprofesi sebagai sopir
angkutan barang rute Surabaya –
Bali. Akbibat sepinya volume
penumpang, maka Kaiman tidak
memperoleh pendapatan yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari dalam rumahtangga. Sehingga
dia pun tidak melanjutkan usaha
angkutan kota.
Peluang kerja sangat terasa sangat
sempit Kaiman sebab ia tidak punya
ijazah, mengingat tidak tamat
Sekolah Dasar (SD). Dalam keadaan
seperti ini, pada 2005 ada tawaran
untuk mengikuti pelatihan
kewirausahaan di bidang budidaya
jamur dari HM Sampoerna.
Kesempatan tersebut tidak disia-
siakan Kaiman kemudian ia
mengikuti pelatihan tersebut.
Bersama 20 peserta lainnya Kaiman
mengikuti pelatihan dengan serius.
Kaiman mengaku pada 2005
mengikuti pelatihan usaha di PPK
Sampoerna selama 14 hari berupa
bimbingan tentang
pengadaan bibit
sistem kultur jaringan, proses
pembuatan media tanam jamur tiram
dan metode pembudidayaann
ya.
Bahkan ada pula pelatihan membuat
makanan berbahan baku jamur.
Dengan bermodalkan 1.000 unit
baglog, Kaiman memulai usaha
budidaya jamur tiram dengan penuh
keseriusan. Tempat budidaya yakni
bangunan berdinding gedeg/bambu
telah dimiliki, maka wirausaha jamur
dapat dilaksanakan.
Berdasarkan ilmu yang diperoleh
dari pelatihan, media tanam terdiri
dari serbuk kayu gergajian, dedak/
katul, tepung jagung dan kalsium
yang dibungkus plastik dengan bobot
1,1 kg per unit baglog.
Kumbung seluas 50 m2 (lebar 5
meter x panjang 10 meter) dapat
dimanfaatkan untuk pembudidayaan
5.000 unit baglog.“Jamur tiram
tergolong tanaman yang cepat
tumbuh dan setiap unit baglog dapat
menghasilkan panenan hingga 1 kg
selama 5 bulan, lalu diganti media
tanam baru. Tetapi saat panen
perdana saya kesulitan mencari
pasar,” kenang Kaiman.
Untuk itu, dia melakukan penjualan
keliling guna menawarkan jamur
tiram ke restoran dan swalayan,
sementara di pasar tradisional
umumnya belum terbiasa digunakan
menjual komoditas tersebut sebab
masyarakat luas belum terbiasa
mengkonsumsi jamur tiram.
Dengan didasari ketekunan untuk
meraih keberhasilan, Kaiman tidak
lelah memasarkan jamur tiram ke
calon pembeli potensial yakni para
pengepul maupun restoran pengguna
jamur untuk bahan masakan.
“Selain mencari terobosan pasar
sendiri, saya juga dibantu PPK
Sampoerna untuk mempromosikan
jamur yang dipajang di etalase PPK
Sampoerna sekaligus diikutkan
pameran bersama pengusaha kecil
lainnya yang dibina Sampoerna,”
papar Kaiman.
Berkat ketekunan dalam
memperluas pasar, Kaiman berhasil
mendapatkan order dari para
pengepul maupun restoran di
berbagai kota (tidak terbatas di
wilayah Kab. Pasuruan). Seiring
semakin besarnya daya serap pasar,
Kaiman pun dapat meningkatkan
volume usahanya.
Kini dia memiliki beberapa kumbung
yang digunakan membudidayakan
puluhan ribu unit baglog. Selain itu,
juga memenuhi permintaan baglog
dari petani Dengan demikian,
Kaiman mampu memunculkan
petani-petani jamur di beberapa
daerah.
Sesuai tuntutan pasar, Kaiman harus
menyiapkan jamur dan baglog dalam
jumlah yang cukup. Untuk
menggerakkan kegiatan usahanya,
dia kini didukung 12 tenaga kerja
yang diupah secara harian.
“Saya kini rata-rata memasok baglog
sebanyak 1.000 unit per hari dengan
harga jual Rp2.250 per unit antara
lain memenuhi permintaan dari Dinas
Pertanian dan Perum Perhutani di
beberapa kabupaten/kota, selain
pesanan langsung dari petani/
pembudidaya. Ini membuktikan
konsumsi jamur semakin meningkat,”
papar Kaiman.
Meningkatnya konsumsi jamur
otomatis berdampak positif terhadap
peningkatan omset Kaiman. Soalnya,
harga jual jamur tiram sebesar
Rp10.000/kg, sedangkan Kaiman
mampu memasarkan 100 kg/per hari
memenuhi pengepul dan restoran.
Untuk memperlancar kegiatan usaha
budidaya jamur tiram dibutuhkan
ketersediaan bahan baku utama
yakni serbuk gergajian kayu.
Masalahnya, serbuk kayu gergajian
di Kab. Pasuruan kini mulai langka,
sehingga harus dicari hingga
kabupaten-kabupaten tetangga yakni
di Kab. Malang dan Kab. Lumajang.
Harga beli serbuk kayu Rp8.000 per
sak ukuran 40 kg, yang dapat diolah
menjadi 25 unit baglog, sehingga
berdasarkan kalkulasi cukup
menguntungkan kendati ditambah
jenis bahan lain untuk media tanam.
Sejalan dengan berkembangnya
usaha budidaya jamur tiram dan
produksi baglog, Kaiman kini benar-
benar mampu menikmati hasilnya.
Dia optimis usaha yang digelutinya
sejak empat tahun terakhir akan
mampu meningkat lagi di masa-masa
mendatang.
Community Development Executive
PT HM Sampoerna, Widowati,
menjelaskan Kaiman merupakan
bagian dari puluhan pengusaha kecil
binaan perusahaan tersebut yang
masih perlu pendampingan hingga
benar-benar mampu mandiri.
“Kami sejak tahun lalu juga
mengoperasikan UKM (Usaha Kecil
Menengah) Center di Central
Business District Taman Dayu, Kab.
Pasuruan, yang memiliki fasilitas
untuk men-display produk yang
dihasilkan mitra binaan. UKM Center
juga dijadikan ajang per-temuan
sesama pengusaha kecil untuk saling
tukar informasi dan berlatih tentang
pemasaran,” papar Widowati.

Sumber: Galeriukm

Bisnis Keripik Jamur Tiram


merupakan salahBisnis Jamur tiram
satu peluang bisnis yang cukup
menjanjikan. Rasa jamur ini yang
cukup lezat dan dapat diolah menjadi
berbagai macam bentuk makanan
serta perawatannya yang mudah
membuat bisnis ini banyak diminati.
Kreatifitas bisnis dengan mengolah
barang mentah menjadi barang jadi
ternyata memberikan berkah
tersendiri bagi pasangan Tri Sugiatno
dan Wiwik Widiastuti. Sukses merintis
bisnis keripik jamur tiram dimulai
dari awal
membudidayakan jamur
tiram dan menjualnya sebagai
sayuran ke sekitar rumahnya. Kini
dengan bisnis keripik jamur yang
sudah berjalan dengan baik mereka
bisa mendapatkan pemasukan jutaan
rupiah.
Keripik Jamur Tiram
Awal bisnis keripik jamur tiram ini
dimulai pada saat Wiwik datang ke
acara lomba desa di Kecamatan
Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa
Timur. Pada acara tersebut hasil
budidaya jamur tiram petani
merupakan salah satu peserta
lomba. Dari situlah Wiwik terdorong
membudidayakan Jamur tiram,
karena prosesnya mudah dan murah.
Sebagai permulaan dalam usaha
budidaya jamur tiram dibelilah 200
bag log (campuran bibit jamur,
serbuk kayu, bekatul kapur kawur,
dan pupuk dalam plastik) seharga Rp
300.000. Bag log itu lalu disusun di
kumbung (rumah jamur)
berdindingkan anyaman bambu
seluas 42 meter persegi, di samping
rumahnya.
Perawatan jamur tiram pun cukup
mudah karena hanya dengan disiram
air bersih setiap hari, hingga jamur
berwarna putih tumbuh di setiap bag
log. Dalam waktu satu bulan, jamur
sudah bisa dipanen. Jamur itu terus
muncul sampai empat hingga lima
bulan berikutnya, sebelum kemudian
bag log harus diganti baru.
Jamur putih yang dipanen sekitar
lima kilogram setiap hari itu lalu
dijual ke tetangganya Rp 8.000 per
kilogram. Ternyata minat para
tetangga membeli jamur tiram yang
dipakai membuat sayuran cukup
tinggi.
Banyaknya peminat itulah yang
mendorong Wiwik dan Tri menambah
jumlah bag log sampai akhirnya
tahun 2007 sebanyak 1.000 bag log
dibudidayakan di kumbung. Hasilnya,
setiap hari mereka panen sampai 30
kilogram jamur putih.
Namun, banyaknya jamur putih yang
dipanen itu justru membingungkan
Wiwik dan Tri. Pasalnya, dari 30
kilogram hasil setiap hari, hanya
sekitar 5 sampai 10 kilogram yang
bisa terjual. Sisanya, menumpuk di
gudang, tak ada pembelinya.
Dari situlah Tri lalu berpikir
mengolah jamur tiram menjadi
keripik
, dengan harapan jamur tiram
akan bisa terjual semuanya dan
memiliki nilai tambah. Meski ide ini
cukup bagus ternyata tidak mudah
diwujudkan. Minimnya pengalaman
membuat keripik Jamur tiram
menjadi permasalahan
tersendiri.Serangkaian percobaan
membuat keripik jamur tiram tidak
kunjung berhasil, Ada yang
keripiknya melempem, ada yang
rasanya enggak enak dan lain-lain.
Meski demikian mereka tetap
gigih
dan tidak putus asa dalam
melakukan percobaan dalam
menemukan formula yang pas dalam
membuat kerikipik Jamur tiram.
Sampai pada percobaan memasak
ke-10, Tri dan Wiwik menemukan
takaran yang pas. Jamur tiram yang
digoreng dengan dicampur tepung
terasa gurih dan enak
rasanya.Dengan pegangan ”resep
rahasia” itu, keduanya memasak
sekitar lima kilogram jamur untuk
dijadikan keripik. Ada dua jenis
keripik yang dijual, keripik
berkualitas baik dijual Rp 70.000 per
kilogram. Keripik yang nomor dua
dijual Rp 1.250 per kemasan kecil.
Keripik jamur tiram awalnya dicoba
dijual ke tetangga, warung, dan
restoran sekitarnya. Awalnya ada
penolakan karena sejauh yang
mereka tahu jamur bisa membuat
keracunan. Namun, setelah keripik
dicoba dan aman, mereka pun
membelinya dan menjadi pelanggan
tetap.
Permintaan Keripik Jamur Tiram
mengalir
Penyebaran dari mulut ke mulut
membuat keripik kian dikenal. Awal
2009, permintaan bertambah, tetapi
produksi jamur tiram
terbatas.”Permintaan datang dari
luar Madiun, seperti Banjarmasin,
Samarinda, Riau, dan Madura. Ada
eksportir dari Lumajang yang
menawarkan ekspor produk saya.
Banyak juga tenaga kerja Indonesia
yang membawa keripik saya untuk
dijual di luar negeri,” ujar Tri.
Tri pun mencoba bekerja sama
dengan 11 petani jamur di wilayah
Dungus dan Kresek, Madiun. Jamur
petani dibeli Rp 8.500 per kilogram
ditambah jamur budidaya sendiri, Tri
dan Wiwik mendapatkan jamur
setengah kuintal per hari. Jamur
dimasak dengan enam penggorengan
untuk menghasilkan setengah kuintal
keripik per hari.
Omzet penjualan keripik sekitar Rp 3
juta per hari. Penghasilan bersih
sekitar 10-20 persen dari omzet,
antara Rp 300.000 sampai Rp 600.000.
Padahal, tiga tahun yang lalu, omzet
dari menjual jamur tiram putih hanya
Rp 40.000 per hari.
Ternyata jumlah produksi itu belum
cukup memenuhi permintaan,
terutama seperti mendekati Lebaran.
”Permintaan naik 100 persen. Butuh
satu kuintal jamur tiram putih per
hari untuk memenuhi permintaan.
Hanya separuh permintaan yang
dipenuhi,” kata Tri.
”Budidayanya mudah, murah, dan
potensi pasarnya besar, tetapi
sayang tidak banyak warga yang
mengetahui hal ini sehingga ragu
membudidayakannya,” tambahnya.
Karena itu, setiap kali warga atau
mahasiswa datang belajar budidaya
jamur tiram, dia memberikan
pelajaran gratis. Biar semakin
banyak orang mau menanam jamur
tiram. Jika pasokan jamur tiram itu
terbatas, obsesinya membuat
waralaba keripik produksinya pun
terganjal.

Sumber: Galeriukm

PROSES PEMANENAN DAN PASCAPANEN BUDIDAYA PALA


dulu kala, tanamanjaman
pala sudah dimanfaatkan
untuk berbagai macam
keperluan. Selain sebagai
rempah-rempah, pala juga
berfungsi sebagai tanaman
penghasil minyak atsiri yang
banyak digunakan dalam
industri pengalengan,
minuman dan kosmetik.
Hampir semua bagian dari
tanaman Pala dapat di
manfaat dan mempunyai nilai
ekonomis. Dengan
mengetahui ketepatan waktu
panen buah pala serta proses
pemanenan dan pascapanen
yang tepat akan
menghasilkan hasil produksi
yang berkualitas tinggi.
Adapun seluk – beluk
pemanenan dan pascapanen
tanaman pala adalah sebagai
berikut :
A. PEMANENAN BUAH
PALA
CIRI DAN UMUR PANEN
TANAMAN PALA
Secara umumnya pohon pala
mulai berbuah pada umur 7
tahun dan pada umur 10
tahun telah berproduksi
secara menguntungkan.
Produksi pada akan terus
meningkat dan pada umur 25
tahun mencapai produksi
tertinggi. Pohon pala terus
berproduksi sampai umur 60–
70 tahun. Buah pala dapat
dipetik (dipanen) setelah
cukup masak (tua), yakni
yaitu sekitar 6–7 bulan sejak
mulai bunga dengan tanda-
tanda buah pala yang sudah
masak adalah jika sebagian
dari buah tersebut tersebut
murai merekah (membelah)
melalui alur belahnya dan
terlihat bijinya yang
diselaputi fuli warna merah.
Jika buah yang sudah mulai
merekah dibiarkan tetap di
pohon selama 2-3 hari, maka
pembelahan buah menjadi
sempurna (buah berbelah
dua) dan bijinya akan jatuh di
tanah.
Khusus untuk Daerah Banda,
dikenal 3 macam waktu
panen tiap tahun, yaitu:
panen raya/besar
(pertengahan musim hujan)
panen lebih sedikit (awal
musim hujan) dan
panen kecil (akhir musim
hujan).
Panen buah pala pada
permulaan musim hujan
memberikan hasil paling baik
(berkualitas tinggi) dan
bunga pala (fuli) yang paling
tebal.
METODE PEMETIKAN BUAH
PALA
Pemetikan buah pala dapat
dilakukan dengan galah
bambu yang ujungnya diberi/
dibentuk keranjang (jawa:
sosok). Selain itu dapat pula
dilakukan dengan memanjat
dan memilih serta memetik
buah-buah pala yang sudah
masak benar.
B. PASCAPANEN BUAH
PALA
PEMISAHAN BAGIAN BUAH
Setelah buah-buah pala
masak dikumpulkan, buah
yang sudah masak dibelah
dan antara daging buah, fuli
dan bijinya dipisahkan. Setiap
bagian buah pala tersebut
ditaruh pada wadah yang
kondisinya bersih dan kering.
Biji-biji yang terkumpul perlu
disortir dan dipilah-pilahkan
menjadi 3 macam yakni
terdiri atas :
Biji pala yang gemuk dan
utuh
Biji pala yang kurus atau
keriput
Biji pala yang cacat.
PENGERINGAN BIJI PALA
Proses pascapanen yang
berikutnya adalah
pengeringan biji pala. Biji
pala yang diperoleh dari
proses ke-I tersebut segera
dijemur untuk menghindari
serangan hama dan penyakit.
Biji dijemur dengan panas
matahari pada lantai jemur/
tempat lainnya. Pengeringan
yang terlalu cepat dengan
panas yang lebih tinggi akan
mengakibatkan biji pala
pecah. Biji pala yang telah
kering ditandai dengan
terlepas bagian kulit biji
(cangkang), jika digolongkan
akan kocak dan kadar airnya
sebesar 8–10 %.
biji pala yang sudah kering,
kemudian dipukul dengan
kayu supaya kulit bijinya
pecah dan terpisah dengan isi
biji. Isi biji yang telah keluar
dari cangkangnya tersebut
disortir berdasarkan ukuran
besar kecilnya isi biji:
Besar: dalam 1 kg terdapat
120 butir isi biji.
Sedang: dalam 1 kg terdapat
sekitar 150 butir isi biji.
Kecil: dalam 1 kg terdapat
sekitar 200 butir isi biji.
Isi biji yang sudah kering,
kemudian dilakukan
pengapuran. Pengapuran biji
pala yang banyak dilakukan
adalah pengapuran secara
basah, yaitu:
Kapur yang sudah disaring
sampai lembut dibuat larutan
kapur dalam bak besar/
bejana (seperti yang
digunakan untuk mengapur
atau melabur dinding/
tembok).
Isi biji pala ditaruh dalam
keranjang kecil dan
dicelupkan dalam larutan
kapur sampai 2–3 kali dengan
digoyang-goyangkan
demikian
rupa sehingga air
kapur menyentuh semua isi
biji.
Selanjutnya isi biji itu
diletakkan menjadi tumpukan
dalam gudang untuk di angin-­
anginkan sampai kering.
Setelah proses pengapuran
perlu diadakan pemeriksaan
terakhir untuk mencegah
kemungkinan biji-biji pala
tersebut cacat, misalnya
pecah yang sebelumnya tidak
diketahui.
Pengawetan biji pala juga
dapat dilakukan dengan
teknologi baru, yakni dengan
fumigasi dengan
menggunakan zat metil
bromida (CH3 B1) atau
karbon bisulfida (CS2)
PENGERINGAN BUNGA PALA
(FULI)
Fuli dijemur pada panas
matahari secara perlahan-
lahan selama beberapa jam,
kemudian di angin-anginkan.
Hal ini dilakukan berulang-
ulang sampai fuli itu kering.
Warna fuli yang semula
merah cerah, setelah
dikeringkan menjadi merah
tua dan akhirnya menjadi
jingga. Dengan pengeringan
seperti ini dapat
menghasilkan fuli yang
kenyal (tidak rapuh) dan
berkualitas tinggi sehingga
nilai ekonomisnya pun tinggi
pula.
PEMECAHAN TEMPURUNG BIJI
Pemecahan tempurung biji
pala dapat dilakukan dengan
2 cara, yaitu:
Proses pemecahan
menggunakan tenaga
manusia
Cara memecah tempurung
dari biji pala dilakukan
dengan cara memukulnya
dengan kayu sampai
tempurung tersebut pecah.
Cara memecah tempurung
biji pala memerlukan
keterampilan khusus, sebab
kalau tidak isi biji akan
banyak yang rusak (pecah)
sehingga kualitasnya turun.
Proses pemecahan dengan
menggunakan mesin
Cara ini banyak digunakan
petani pala. Secara
sederhana dapat diterangkan
bahwa
mekanisme kerja dan
alat ini sama dengan yang
dilakukan oleh manusia,
yakni bagian tertentu dari
mesin menghancurkan kulit
buah pala sehingga yang
tinggal adalah isi bijinya.
Keuntungan dari penggunaan
mesin adalah tenaga, waktu
dan biaya operasionalnya
dapat ditekan. Di samping itu
kerusakan mekanis dari isi
biji juga lebih kecil.

Sumber: binaukm

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PALA


proses budi dayasebuah
tanaman, kita pasti
mengharapkan semuanya
berjalan dengan baik dan
pertumbuhan tanaman dan
hasil yang diberikan pun
optimal. Persiapan mulai dari
bibit tanaman, penyediaan
media dan lingkungan yang
sesuai, penanaman hingga
pemeliharaan merupakan
proses rangkaian upaya
untuk mewujudkan hal
tersebut. Namun demikian ,
semua usaha pasti akan
menemui kendala, termasuk
dalam budi daya pala ini. Di
antaranya serangan hama
dan penyakit pada tanaman
pala. Untuk meminimalisir
kerugian dan permasalahan
yang muncul ada baiknya
petani memahami seluk
beluk jenis hama dan
penyakit yang umum
menyerang tanaman pala ini,
termasuk gejala, serta
metode pengendalian yang
efektif. Oleh karena itu ,
sebagai tambahan informasi
berikut beberapa jenis hama
dan penyakit yang umum
menyerang tanaman pala
dalam budi daya pala.
JENIS HAMA TANAMAN PALA
Penggerek batang (Batocera
sp)
Tanaman pala yang terserang
oleh
hama ini dalam waktu
tertentu dapat mengalami
kematian.
Gejala: terdapat lubang
gerekan pada batang
diameter 0,5– 1 cm, di mana
didapat serbuk kayu.
Pengendalian:
menutup lubang gerekan
dengan kayu/membuat
lekukan pada lubang gerekan
dan membunuh hamanya.
memasukkan/menginjeksikan
(menginfuskan)
racun
serangga seperti Dimicron
199 EC dan Tamaran 50 EC
sistemik ke dalam batang
pohon pala menggunakan
alat bor, dosis yang
dimasukkan sebanyak 15–20
cc dan lubang tersebut
segera ditutup kembali.
Anai-Anai / Rayap
Hama anai-anai mulai
menyerang dari akar
tanaman, masuk ke pangkal
batang dan akhirnya sampai
ke dalam batang.
Gejala: terjadinya bercak
hitam pada permukaan
batang, jika bercak hitam itu
dikupas, maka sarang dan
saluran yang dibuat oleh
anai-anai (rayap) akan
kelihatan.
Pengendalian:
menyemprotkan
larutan
insektisida pada tanah di
sekitar batang tanaman yang
diserang, insektisida
disemprotkan pada bercak
hitam supaya dapat
merembes kedalam sarang
dan saluran-saluran yang
dibuat oleh anai-anai
tersebut.
Kumbang Aeroceum
fariculatus
Hama kumbang berukuran
kecil dan sering menyerang
biji pala. Imagonnya
menggerek biji dan
meletakkan telur di
dalamnya. Di dalam biji
tersebut, telur akan menetas
dan menjadi larva yang dapat
menggerek biji pala secara
keseluruhan.
Pengendalian: mengeringkan
secepatnya biji pala setelah
diambil dari buahnya.
JENIS PENYAKIT YANG
MENYERANG TANAMAN
PALA
Kanker batang
Gejala: terjadinya
pembengkakan batang,
cabang atau ranting tanaman
yang diserang.
membersihkan kebun dari
semak belukar, memangkas
bagian yang terserang dan
dibakar.
Belah putih
Penyebab: cendawan
coreneum sp. yang dapat
menyebabkan buah terbelah
dan gugur sebelum tua.
Gejala: terdapat bercak-
bercak kecil berwarna ungu
kecoklatcoklatan pada
bagian kuliat buah. Bercak-
bercak tersebut membesar
dan berwarna hitam.
Pengendalian:
membuat saluran
pembuangan air (drainase)
yang baik;
pengasapan dengan belerang
di bawah pohon dengan dosis
100 gram/tanaman.
Rumah Laba-Laba
Menyerang cabang, ranting
dan daun.
Gejala: daun mengering dan
kemudian diikuti
mengeringnya ranting dan
cabang.
Pengendalian: memangkas
cabang, ranting dan daun
yang terserang, kemudian
dibakar.
Busuk buah kering
Penyebab: jamur Stignina
myristicae.
Gejala: berupa bercak
berwarna coklat, bentuk
bulat dan cekung dengan
ukuran bercak bervariasi,
yakni dari yang berukuran
sangat kecil sampai sekitar 3
cm; pada kulit buah tampak
gugusangugusan jamur
berwarna hijau kehitam-
hitaman dan akhirnya bercak-
bercak
tersebut terjadi
kering dan keras.
Pengendalian:
kondisi kelembaban di sekitar
pohon pala perlu dikurangi,
misalnya dengan mengurang
kerimbunan pohonpohon lain
di sekitar pala dengan
memangkas sebagian caba
ng-ca bang nya yang berdaun
rimbun, kemudian tanah di
sekitar pohon dibersihkan,
tidak terdapat gulma atau
tanaman-tanaman perdu
lainnya;
buah pala dan daun yang
terserang penyakit ini segera
dipetik dan dipendam dalam
tanah;
dapat dilakukan dengan
penyemprotan fungisida
secara yang rutin, yakni 2–4
minggu sekali, baik pada saat
ada serangan maupun tidak
ada serangan dari penyakit
ini, fungsida yang dapat
digunakan adalah yang
mengandung bahan aktif
mancozeb, karbendazim dan
benomi.
Busuk buah basah
Penyebab: jamur
Collectotrichum
gloeosporiodes,
yang
menyerang atau menginfeksi
buah yang luka.
Gejala: buah pala tampak
busuk warna coklat yang
sifatnya lunak dan basah;
gejala ini timbul pada sekitar
tangkai buah yang melekat
pada buah sehingga buah
mudah gugur.
Pengendalian: dengan busuk
buah kering.
Gugur buah muda
Gejala: adanya buah muda
yang gugur.
Penyebab: penyakit ini belum
diketahui dengan jelas.
Pengendalian: dengan
mengkombinasikan
(memadukan)
antara
pemupukan dan pemberian
fungisida.
Sumber: binaukm

TEKNIK TANAM & PERAWATAN TANAMAN PALA


yang berkualitasbibit
merupakan faktor yang
penting dalam menghasilkan
tanaman dan buah pala yang
bermutu tinggi. Setelah bibit
unggul diperoleh, perlu
dilakukan langkah-langkah
budi daya berikutnya yang
tidak kalah pentingnya dalam
menjaga mutu hasil
pemanenan nantinya yakni
meliputi Pengolahan media
tanam budi daya pala, teknik
penanaman pala serta teknik
pemeliharaan tanaman pala.
Secara rinci akan kita bahas
lebih lanjut berikut ini :
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
BUDIDAYA PALA
Tahapan selanjutnya setelah
bibit unggul diperoleh adalah
mempersiapkan media tanam
yang mendukung bagi
pertumbuhan tanaman pala,
yakni meliputi :
Kebun untuk tanaman pala
perlu disiapkan sebaik-
baiknya, di atas lahan masih
terdapat semak belukar
harus dihilangkan. Kemudian
tanah diolah agar menjadi
gembur sehingga aerasi
(peredaran udara dalam
tanah) berjalan dengan baik.
Pengolahan tanah sebaiknya
dilakukan pada musim
kemarau supaya proses
penggemburan tanah itu
dapat lebih efektif.
Pengolahan tanah pada
kondisi lahan yang miring
harus dilakukan menurut
arah melintang lereng.
Pengolahan tanah dengan
cara ini akan membentuk
alur yang dapat mencegah
aliran permukaan tanah/
menghindari erosi.
Pada tanah yang kemiringan
20% perlu dibuat teras-teras
dengan ukuran lebar sekitar
2 m, dapat pula dibuat teras
tersusun dengan penanaman
sistem kontur, yaitu dapat
membentuk teras guludan,
teras kredit/teras bangku.
TEKNIK PENANAMAN DALAM
BUDIDAYA PALA
Setelah media tanaman siap,
tahapan selanjutnya adalah
penanaman bibit pala.
Dengan teknik penanaman
yang baik diharapkan
pertumbuhan tanaman pala
juga bisa optimal, tahapannya
sebagai berikut :
bibit dilakukan pada awal
musim hujan. Hal ini untuk
mencegah agar bibit tanaman
tidak
mati karena
kekeringan, bibit tanaman
yang berasal dari biji dan
sudah mempunyai 3–5 batang
cabang biasanya sudah
mampu beradaptasi dengan
kondisi lingkungan sehingga
pertumbuhannya dapat baik.
Penanaman yang berasal dari
biji dilakukan dengan cara
sebagai berikut: polybag
(kantong plastik) di lepaskan
terlebih dahulu, bibit
dimasukkan ke dalam lubang
tanam dan permukaan tanah
pada lubang tanam tersebut
dibuat sedikit di bawah
permukaan lahan kebun.
Setelah bibit-bibit tersebut
ditanam, kemudian lubang
tanam tersebut disiram
dengan air supaya media
tumbuh dalam lubang
menjadi basah.
Bila bibit pala yang berasal
dari cangkok, maka sebelum
ditanam daun-daunnya harus
dikurangi terlebih dahulu
untuk mencegah penguapan
yang cepat. Lubang tanam
untuk bibit pala yang berasal
dari cangkang perlu dibuat
lebih dalam. Hal ini
dimaksudkan agar setelah
dewasa tanaman tersebut
tidak roboh karena sistem
akaran dari bibit cangkokan
tidak memiliki akar
tunggang. Setelah bibit di
tanam, lubang tanam harus
segera disiram supaya media
tumbuhan menjadi basah.
Penanaman bibit pala yang
berasal dari enten dan
okulasi dapat dilakukan
seperti menanam bibit-bibit
pala yang berasal dari biji.
Lubang tanaman perlu
dipersiapkan satu bulan
sebelum bibit ditanam. Hal ini
bertujuan agar tanah dalam
lubangan menjadi dayung
(tidak asam), terutama jika
pembuatannya pada musim
hujan, lubang tanam dibuat
dengan ukuran 60 x 60 x 60
cm untuk jenis tanah ringan
dan ukuran 80x80x80 cm
untuk jenis tanah liat.
Dalam menggali lubang
tanam, lapisan tanah bagian
atas harus dipisahkan dengan
lapisan tanah bagian bawah,
sebab kedua lapisan tanah ini
mengandung unsur yang
berbeda. Setelah beberapa
waktu, tanah galian bagian
bawah di masukkan lebih
dahulu, kemudian menyusul
tanah galian bagian atas yang
telah dicampur dengan
pupuk
kandang secukupnya.
Jarak tanam yang baik untuk
tanaman pala adalah: pada
lahan datar adalah 9×10 m.
Sedangkan pada lahan
bergelombang adalah 9×9 m.
PEMELIHARAAN TANAMAN
BUDIDAYA PALA
Beberapa upaya yang perlu
dilakukan dalam rangka
pemeliharaan tanaman pala
antara lain :
Untuk mencegah kerusakan
atau bahkan kematian
tanaman, maka perlu di
usahakan tanaman pelindung
yang pertumbuhannya cepat,
misalnya tanaman jenis
Clerisidae atau jauh
sebelumnya bibit pala di
tanam, lahan terlebih dahulu
di tanami jenis tanaman
buah-buahan/tanaman
kelapa.
Penyulaman harus dilakukan
dilakukan jika bibit tanaman
pala itu mati/
pertumbuhannya kurang
baik.
Pada akhir musim hujan,
setelah pemupukan
sebaiknya segera dilakukan
penyiraman agar pupuk
dapat segera larut dan
diserap akar. Pada waktu
tanaman masih muda,
pemupukan dapat dilakukan
dengan pupuk organik (pupuk
kandang) dan pupuk
anorganik ( pupuk kimia
sama dengan pupuk buatan)
yaitu berupa TSP, Urea dan
KCl. Namun jika tanaman
sudah dewasa/sudah tua,
pemupukan yang dan lebih
efektif adalah pupuk
anorganik. Pemupukan
dilakukan dua kali dalam
setahun, yaitu pada awal
musim hujan dan pada akhir
musim hujan.
Sebelum pemupukan
dilakukan, hendaknya dibuat
parit sedalam 10 cm dan
lebar 20 cm secara melingkar
di sekitar batang pokok
tanaman selebar kanopi
(tajuk pohon), kemudian
pupuk TSP, Urea dan KCl
ditabur dalam parit tersebut
secara merata dan segera
ditimbun tanah dengan rapat.
Jika pemupukan di lakukan
pada awal musim hujan,
setelah dilakuakan pada
akhir musim hujan, maka
untuk membantu pelarutan
pupuk dapat dilakukan
penyiraman, tetapi jika
kondisinya masih banyak
turun hujan tidak perlu
dilakukan penyiraman.

Sumber: binaukm

PERSYARATAN TUMBUH TANAMAN PALA


merupakan tanamanpala
rempah-rempah yang berasal
dari Maluku. Semenjak
zaman eksplorasi Eropa pala
tersebar luas di daerah
tropika lain seperti Mauritius
dan Karibia (Pulau Grenada).
Istilah pala umum dipakai
untuk biji pala yang
diperdagangkan. Sentra
penanaman pala menyebar di
Sulawesi, Irian Jaya, Aceh dan
Maluku. Untuk dapat tumbuh
dengan baik, tanaman pala
ini mebutuhkan kondisi
lingkungan yang sesuai dan
mendukung. Pada topik
bahasan kali ini, akan diulas
persyaratan tumbuh tanaman
pala pada lingkungan seperti
apakah tumbuhan ini dapat
dibudidayakan dengan hasil
yang optimal.
BERERAPA PERSYARAT
TUMBUH TANAMAN
PALA
Kondisis atau keadaan
lingkungan yang secara
umum mempengaruhi dan
berperan penting dalam
suatu budi daya, dalam hal ini
adalah
budi daya tanaman
pala meliputi kondisi Iklim,
Media tanam dan ketinggian
tempat. Selengkapnya akan
diuraikan satu persatu
berikut ini :
IKLIM YANG MENDUKUNG
PERTUMBUHAN TANAMAN
PALA
Tanaman pala juga
membutuhkan iklim yang
panas dengan curah hujan
yang tinggi dan agak merata/
tidak banyak berubah
sepanjang tahun. Sedangkan
Suhu udara lingkungan yang
paling tepat adalah berkisar
pada 20-30 derajat C. Curah
hujan terbagi secara teratur
sepanjang tahun. Tanaman
pala tergolong jenis tanaman
yang tahan terhadap musim
kering selama beberapa
bulan.
MEDIA TANAM UNTUK
BUDIDAYA TANAMAN PALA
Tanaman ini membutuhkan
tanah yang gembur, subur
dan sangat cocok pada tanah
vulkasnis yang mempunyai
pembuangan air yang baik.
Tanaman pala tumbuh baik di
tanah yang bertekstur pasir
sampai lempung dengan
kandungan bahan organis
yang tinggi.
Sedangkan pH tanah yang
cocok untuk tanaman pala
adalah 5,5 – 6,5. Tanaman ini
peka terhadap gangguan air,
maka untuk tanaman ini
harus memiliki saluran
drainase yang baik.
Pada tanah-tanah yang miring
seperti
pada lereng
pegunungan, agar tanah
tidak mengalami erosi
sehingga tingkat
kesuburannya berkurang,
maka perlu dibuat teras-teras
melintang lereng.
KETINGGIAN TEMPAT
OPTIMUM UNTUK TANAMAN
PALA
Tanaman pala dapat tumbuh
baik di daerah yang
mempunyai ketinggian
500-700 m
dpl.
Sedangkan pada
ketinggian di atas 700 m,
produksitivitas tanaman akan
rendah.

Sumber: binaukm

PELUANG USAHA TANAMAN PALA


Fragan Haitt), satu(Myristica
lagi jenis tanaman asli
Indonesia yang memiliki nilai
ekonomi tinggi. Tanaman asli
Kepulauan Banda Maluku ini
merupakan tanaman buah
berupa pohon tinggi telah
menjadi komoditi
perdagangan yang penting
sejak masa Romawi.
Tanaman pala menyebar ke
Pulau Jawa, pada saat
perjalanan Marcopollo ke
Tiongkok yang melewati
pulau Jawa pada tahun 1271
sampai 1295 pembudidayaan
tanaman pala terus meluas
sampai Sumatera. Beberapa
jenis Tanaman pala yang
tumbuh di Indonesia antara
lain:
Myristica fragrans Houtt
Myristica argentea Ware
Myristica fattua Houtt
Myristica specioga Ware
Myristica Sucedona BL
Myristica malabarica Lam.
Jenis pala yang banyak
diusahakan adalah terutama
Myristica fragrans, sebab
jenis pala ini mempunyai nilai
ekonomi lebih tinggi daripada
jenis lainnya. Disusul jenis
Myristica argentea dan
Myristica fattua. Jenis
Myristica specioga, Myristica
sucedona, dan Myristica
malabarica produksinya
rendah sehingga nilai
ekonomisnya pun rendah
pula.
PEMANFAAT TANAMAN PALA
Sejak jaman dulu kala,
tanaman pala sudah
dimanfaatkan untuk berbagai
macam keperluan Selain
sebagai rempah-rempah, pala
juga
berfungsi sebagai
tanaman penghasil minyak
atsiri yang banyak digunakan
dalam industri pengalengan,
minuman dan kosmetik.
Berikut manfaat pala
berdasarkan tiap jenis
tanamannya :
Kulit batang dan daun
Batang/kayu pohon pala yang
disebut dengan “kino” hanya
dimanfaatkan sebagai kayu
bakar. Kulit batang dan daun
tanaman pala menghasilkan
minyak atsiri
Fuli ate salut biji pala adalah
benda untuk menyelimuti biji
buah pala yang berbentuk
seperti anyaman pala,
disebut “bunga pala”. Dalam
bahasa Inggris disebut mace,
dalam istilah farmasi disebut
myristicae arillus atau macis.
Bunga pala ini dalam bentuk
kering banyak dijual di dalam
negeri.
Biji pala
Biji pala tidak pernah
dimanfaatkan oleh orang-
orang pribumi sebagai
rempah-rempah. Pada
kenyataannya biji pala
mengandung minyak atsiri
7-14%. Bubuk pala dipakai
sebagai penyedap untuk roti
atau kue, puding, saus,
sayuran, dan minuman
penyegar. Minyaknya juga
dipakai sebagai campuran
parfum atau sabun. Buah
pala sesungguhnya dapat
meringankan semua rasa
sakit dan rasa nyeri yang
disebabkan oleh kedinginan
dan masuk angin dalam
lambung dan usus. Biji pala
sangat baik untuk obat
pencernaan yang terganggu,
obat muntah-muntah dan
lain-lainya.
Daging buah pala
Bagian buah yang satu ini
paling banyak dijumpai dan
dikonsumsi masyarakat.
Daging buah pala sangat baik
dan sangat digemari oleh
masyarakat jika telah
diproses menjadi makanan
ringan, misalnya: asinan pala,
manisan pala, marmelade,
selai pala, kristal daging
buah pala.
Hampir semua bagian
tanaman pala dapat
dimanfaatkan dan memiliki
nilai ekonomi yang tinggi.
Tingkat kebutuhan dan daya
serap dipasaran sudah tidak
diragukan lagi. Melihat minat
dan kebutuhan pasar, serta
didukung dengan beragam
manfaat yang diperoleh dari
tanaman Pala, penanganan
dan pengembangan tanaman
pala pada skala agrobisnis
merupakan peluang usaha
yang sangat menjanjikan
untuk digeluti.

Sumber: binaukm

METODE PEMBIBITAN BUDIDAYA TANAMAN PALA


Sebagai
tanaman asli Indonesia,
tanaman yang memiliki nilai
ekonomis tinggi ini memiliki
kecocokan dengan kondisi
dan iklim di Indonesia. Untuk
di kembangkan dalam skala
budi daya agrobisnis
diperlukan pemilihan bibit
tanaman pala dengan
kualitas yang baik sehingga
diperoleh hasil panen dengan
mutu yang tinggi pula. Oleh
karena itu berikut ini akan
dibahas beberapa metode
dan cara pembibitan yang
dapat dilakukan dalam budi
daya tanaman pala.
PERBANYAKAN CARA
GENERATIF (BIJI)
Perbanyakan tanaman pala
salah satunya dengan
menggunakan perbanyakan
generatif / perbanyakan
dengan biji. Adapun tahapan-
tahapan yang perlu dilakukan
dalam perbanyakan tanaman
pala secara generatif ini
adalah sebagai berikut :
Biji
Perbanyakan dengan biji
dapat dilakukan dengan
mengecambahkan biji. Dalam
hal ini biji yang digunakan
sebagai bibit dapat berasal
dari:
1. Biji sapuan: biji yang
dikumpulkan begitu saja
tanpa diketahui secara jelas
dan pasti mengenai pohon
induknya.
2. Biji terpilih: biji yang
asalnya atau pohon induknya
diketahui dengan jelas. Untuk
jenis biji terpilih ini dapat
dibagi lagi menjadi :
biji legitiem, yaitu biji yang
diketahui dengan jelas pohon
induknya (asal putiknya jelas
diketahui)
biji illegitiem, yaitu biji yang
berasal dari tumpang sari
tidak diketahui, tetapi asal
putiknya jelas diketahui
biji Propellegitiem, yaitu biji
yang terjadi hasil persilangan
dalam satu kebun yang
terdiri dua klon atau lebih.
Biji-biji yang akan digunakan
sebagai benih harus berasal
dari buah pala yang benar-
benar masak. Buah pala
bijinya akan digunakan
sebagai benih hendaknya
berasal dari pohon pala yang
mempunyai sifat-sifat:
(1) pohon dewasa yang
tumbuhnya sehat;
(2) mampu berproduksi tinggi
dan kualitasnya baik.
Sebagai tambahan informasi
berdasarkan Surat Keputusan
Direktur Jenderal Perkebunan
Nomor: KB. 010/42/SK/ DJ.
BUN/9/1984, telah ditetapkan
dan dipilih pohon induk yang
dapat dipergunakan sebagai
sumber benih yang tersebar
di 4 propinsi, yaitu: Sumatera
Barat, Jawa Barat, Sulawesi
Utara dan Maluku. Biji-biji
dari pohon induk terpilih yang
akan
digunakan sebagai
benih harus diseleksi, yaitu
dipilih biji-biji yang ukurannya
besar dengan bobot minimum
50 gram/biji, berbentuk agak
bulat dan simetris, kulit biji
berwarna cokelat kehitam-
hitaman dan mengkilat, tidak
terserang oleh hama dan
penyakit.
Buah pala yang dipetik dari
pohon dan akan dijadikan
benih harus segera diambil
bijinya, paling lambat dalam
waktu 24 jam biji-biji tersebut
harus sudah disemaikan. Hal
ini disebabkan oleh sifat biji
pala yang daya
berkecambahnya dapat cepat
menurun.
B. Penyemaian
Untuk melakukan
penyemaian bibit pala ini
perlu dilakukan beberapa
persyaratan dan persiapan,
yakni :
1. Tanah tempat penyemaian
harus dekat sumber air untuk
lebih memudahkan
melakukan penyiraman
persemaian. Tanah yang akan
dipakai
untuk penyemaian
harus dipilih tanah yang
subur dan gembur. Tanah
diolah dengan cangkul
dengan kedalaman olakan
sekitar 20 cm dan dibuat
bedengan dengan ukuran
lebar sekitar 1,5 cm dan
panjangnya 5-10 cm,
tergantung biji pala yang
akan disemaikan. Bedengan
dibuat membujur Utara-
Selatan. Kemudian tanah
yang sudah diolah tersebut
dicampuri dengan pupuk
kandang yang sudah jadi
(sudah tidak mengalami
fermentasi) secara merata
secukupnya supaya tanah
bedengan tersebut menjadi
gembur. Sekeliling bedengan
dibuka selokan kecil yang
berfungsi sebagai saluran
drainase.
2. Bedengan diberi peneduh dari
anyaman
daun kelapa/jerami
dengan ukuran tinggi sebelah
Timur 2 m dan sebelah Barat
1 m. maksud pemberian
peneduh ini adalah agar
pesemaian hanya terkena
sinar matahari pada pagi
sampai menjelang siang hari
dan pada siang hari yang
panas terik itu persemaian itu
terlindungi oleh peneduh.
3. Tanah bedengan disiram air
sedikit demi sedikit sehingga
kebasahannya merata dan
tidak sampai terjadi
genangan air pada bedengan.
Kemudian biji-biji pala
disemaikan dengan
membenamkan biji pala
sampai sedalam sekiat 1 cm
di bawah permukaan tanah
bedengan. Jarak persemaian
antar-biji adalah 15X15 cm.
Posisi dalam membenamkan
biji/benih harus rapat, yakni
garis putih pada kulit biji
terletak di bawah.
Pemeliharaan pesemaian
terutama adalah menjaga
tanah bedengan tetap dalam
keadaan basah (disiram
dengan air) dan menjaga
agar tanah bedengan tetap
bersih dari gulma).
4. Setelah biji berkecambah
yaitu sudah tumbuh bakal
batangnya. Maka bibit
pada
persemaian tersebut
dapat dipindahkan ke
kantong polybag yang berisi
media tumbuh berupa tanah
gembur yang subur dicampur
dengan pupuk kandang.
Pemindahan bibit dari
persemaian ke kantong
polybag harus dilakukan
secara hati-hati agar
perakarannya tidak rusak.
5. Polybag yang sudah berisi
bibit tanaman harus
diletakkan pada tempat yang
terlindung dari sinar
matahari/diletakkan
berderet-deret dan di atasnya
diberi
atap pelindung berupa
anyaman daun kelapa/jerami.
6. Pemeliharaan dalam polybag
terutama adalah menjaga
agar media tumbuhnya tetap
bersih dari gulma dan
menjaga media tumbuh
dalam keadaan tetap basah
namun tidak tergantung air.
Agar tidak tergenang air,
bagian bawahnya dari
polybag harus diberi lubang
untuk jalan keluar air
siraman/air hujan.
7. Bibit-bibit tersebut dapat
dilakukan pemupukan ringan,
yakni dengan pupuk TSP dan
urea masing-masing sektar 1
gram tiap pemupukan. Pupuk
ditaruh di atas permukaan
media tumbuh kemudian
langsung disiram. Pemupukan
dilakukan 2 kali dalam
setahun, yakni pada awal
musim hujan dan pada akhir
musim hujan. Setelah bibit
tanaman mempunyai 3–5
batang cabang, maka bibit ini
dapat dipindahkan/ditanam di
lapangan.
PERBANYAKAN CARA
CANGKOK (MARCOTEREN)
Metode lain yang dapat
digunakan dalam erbanyakan
tanaman pala adalah dengan
cara mencangkok. Metode
mencangkok bertujuan untuk
mendapatkan tanaman yang
mempunyai sifat-sifat asli
induknya (pohon yang
dicangkok).
Hal yang diperhatikan dalam
memilih batang/cabangyang
akan dicangkok adalah dari
pohon yang tumbuhnya sehat
dan mampu memproduksi
buah cukup banyak, pohon
yang sudah berumur 12–15
tahun. Batang/cabang yang
sudah berkayu, tetapi tidak
terlalu tua/terlalu muda.
Cara mencangkok
(marcotern):
Batang/cabang dikelupas
kulitnya dengan pisau tajam
secara melingkar sepanjang
3–4 cm. Posisi cangkokan
sekitar 25 cm dari pangkal
batang/cabang. Lendir/
kambium yang melapisi kayu
dihilangkan dengan cara
disisrik kambiumnya, batang
yang akan dicangkok
tersebut dibiarkan selama
beberapa jam sampai
kayunya yang tampak itu
kering benar.
Ambillah tanah yang gembur
dan sudah dicampuri dengan
pupuk kandang dalam
keadaan basah dan
menggumpal. Kemudian
tanah tersebut ditempelkan/
dibalutkan pada bagian
batang yang telah dikuliti
berbentuk gundukan tanah.
Gundukan tanah tersebut
kemudian dibalut dengan
sabut kelapa/plastik. Agar
tanah dapat melekat erat
pada batang yang sudah
dikuliti, maka sabut kelapa/
plastik pembalut itu diikat
dengan tali secara kuat pada
bagian bawa, bagian tengah
dan bagian atas. Bila
menggunakan pembalut dari
palstik, maka bagian atas dan
bagian
bawah harus diberi
lubang kecil untuk
memasukkan air siraman
(lubang bagian atas) dan
sebagai saluran drainase
(lubang bagian bawah).
Bila pencangkokkan ini
berhasil dengan baik, maka
setelah 2 bulan akan tumbuh
perakarannya. Jika perakaran
cangkokkan itu sudah siap
untuk dipotong dan
dipindahkan keranjang atau
ditanam langsung di
lapangan.
PERBANYAKAN CARA
PEYAMBUNGAN (ENTEN DAN
OKULASI)
Sistem penyambungan ini
adalah menempatkan bagian
tanaman yang dipilih pada
bagian tanaman lain sebagai
induknya sehingga
membentuk satu tanaman
bersama.
Sistem penyambungan ini ada
dua cara, yakni:
1. Penyambungan Pucuk
(entern, grafting)
Penyambungan pucuk ini ada
tiga macam yaitu :
Enten celah (batang atas dan
batang bawah sama besar)
Enten pangkas atau kopulasi
Enten sisi (segi tiga)
2. Penyambungan mata
(okulasi)
Penyambungan mata ada tiga
macam yaitu :
Okulasi biasa (segi empat)
Okulasi “T”
Forkert
Setelah 3-4 bulan sejak
penyambungan dengan
sistem enten atau okulasi itu
dilakukan dan jika telah
menunjukkan adanya
pertumbuhan batang atas
(pada penyambungan enten)
dan mata tunas (pada
penyambungan okulasi),
tanaman sudah dapat
ditanam di lapangan.
PERBANYAKAN CARA
PENYUSUAN (INARCHING
ATAU APPROACH GRAFTING)
Dalam sistem penyusuan ini,
ukuran batang bawah dan
batang atas harus sama
besar (kurang lebih besar jari
tangan orang dewasa). Cara
melakukannya adalah
sebagai berikut:
Pilihlah calon bawah dan
batang atas yang mempunyai
ukuran sama.
Lakukanlah penyayatan pada
batang atas dan batang
bawah dengan bentuk dan
ukuran sampai terkena
bagian dari kayu.
Tempelkan batang bawah
tersebut pada batang atas
tepat pada bekas sayatan
tadi dan ikatlah pada batang
atas tepat pada bekas
sayatan dan ikat dengan kuat
tali rafia.
Setelah beberapa waktu,
kedua batang tersebut akan
tumbuh bersama-sama
seolah-olah batang bawah
menyusu pada batang atas
sebagai induknya. Dalam
waktu 4–6 minggu, penyusuan
ini sudah dapat dilihat
hasilnya. Jika batang atas
daun-daunnya tidak layu,
maka penyusuan itu dapat
dipastikan berhasil. Setelah 4
bulan, batang bagian bawah
dan bagian atas sudah tidak
diperlukan lagi dan boleh
dipotong serta dibiarkan
tumbuh secara sempurna.
Jika telah tumbuh sempurna,
maka bibit dari hasil
penyusuan tersebut sudah
dapat ditanam di lapangan.
PERBANYAKAN CARA STEK
Tanaman pala dapat
diperbanyak dengan stek tua
dan muda yang dengan 0,5%
larutan hormaon IBA.
Penyetekan menggunakan
hormon IBA 0,5%, biasanya
pada umur 4 bulan setelah
dilakukan penyetekan sudah
keluar akar-akarnya.
Kemudian tiga bulan
berikutnya sudah tumbuh
perakaran yang cukup
banyak. Percobaan lain
adalah dengan menggunakan
IBA 0,6% dalam bentuk kapur.
Penyetekan
dengan
menggunakan IBA 0,6%,
biasanya setelah 8 minggu
sudah terbentuk kalus di
bagian bawah stek. Kemudian
jika
diperlukan untuk kedua
kalinya dengan larutan IBA
0,5%, maka setelah 9 bulan
kemudian sudah tampak
perakaran.

Sumber: binaukm

%d blogger menyukai ini: