Category Archives: Peternakan

Manajemen Bisnis Penetasan Telur Berbasis Kualitas


peternakan
Semenjak merebaknya virus flu
burung dunia bisnis
unggas mengalami kelesuan. Banyak
peternak tidak hanya merugi bahkan
ada yang sampai gulung tikar. Flu
burung tidak hanya melemahkan
para peternak saja tetapi juga minat
masyarakat mengkonsumsi hal-hal
yang berkaitan dengan unggas
menjadi menurun. Setelah isu flu
burung mulai mereda peternak mulai
bergairah kembali untuk memulai
bisnis ternak unggas baik
ayam, itik,
puyuh dan unggas lain. Kebutuhan
akan bibit unggas semakin
meningkat sehinga peluang usaha
dalam bidang
penetasan telur
menjadi terbuka dan bergairah.
Pengalaman buruk flu burung
membuat semua pihak terkait lebih
berhati-hati dalam memilih bibit-bibit
unggas yang benar-benar sehat dan
berkualitas. Karena itu di dalam
manajemen penetasan telur perlu
lebih menitik beratkan pada kualitas
anakan unggas.
Kualitas anakan unggas hasil
penetasan telur diukur
berdasarkan
beberapa parameter yang telah
ditentukan oleh lembaga yang
berwenang atau Standar Nasional
Indonesia (SNI). Misalnya saja
klasifikasi, persyaratan mutu, cara
pengambilan contoh, cara
pengukuran, pengemasan dan
pengangkutan bibit. Jika tertarik bisa
mendownload beberapa ketentuan
standard mutu dan kualitas anakan
unggas hasil penetasan telur di

http://websisni.bsn.go.id.

Guna menghasilkan DOC/DOD yang
berkualitas, perlu ada seleksi ketat
yang dilakukan bertahap agar
diperoleh keseragaman produksi
yang muaranya adalah kualitas.
Penentuan kualitas DOC/DOD dimulai
dari grade, umur indukan, berat
telur, proses penetasan, packing dan
terakhir suara pelanggan
. Inti dari
seleksi tersebut adalah mencapai
keseragaman, baik untuk
mendapatkan telur tetas maupun di
level budidaya.
Grade Bibit Unggas
Grade menentukan kualitas anakan
unggas dalam beberapa klasifikasi
kualitas. Dalam menentukan grade,
setiap farm memiliki kebijakan yang
berbeda-beda , biasanya
penentuan
grade berdasarkan usia indukan yang
bisa disimpulkan menjadi bibit muda,
menjelang puncak produksi, puncak
produksi dan menjelang penurunan
produksi atau disebut bibit tua.
Disamping berdasarkan usia indukan,
grading juga bisa ditentukan dari
perkembangan fisiologis ayam/itik
.
Meski umur indukan sudah masuk
dalam grade usia tertentu, namun
jika berat telur tetasnya tidak sesuai
standar maka pihak hatchery dapat
memutuskan telur tersebut tidak ikut
ditetaskan. Namun jika merujuk pada
Standar Nasional Indonesia (SNI)
maka berat DOC FS minimal 37 gram
atau 65% dari berat telur tetas.
Berdasar SNI pula, setiap bibit yang
dihasilkan harus bebas pullorum.
Packing Bibit Unggas
Dalam hal prosedur packing DOC
dan pendistribusian yang baik, harus
dilengkapi data-data yang sesuai
dengan yang tertera di box DOC.
Data tersebut meliputi
strain,
jumlah, tanggal menetas, garansi
bebas penyakit pulorum dan petugas
penentuan grade DOC
. Pada box
DOC sesuai standar kebutuhan
seperti ventilasi, kepadatan dan
keselamatannya. Selain itu, alat
transportasi pengiriman DOC
dilengkapi dengan peralatan ventilasi
untuk menjaga kenyamanan anak
ayam selama dalam pengiriman dan
pengiriman DOC segera setelah
packing selesai.
Biosecurity Bibit Unggas
Meski begitu, pencapaian kualitas
yang baik tidak dapat diraih jika
tidak menerapkan
biosekuriti
terutama untuk hal sanitasi dan
fumigasi
. Sebelum menjadi DOC,
telur tetas sudah mengalami
beberapa kali sanitasi dan fumigasi
mulai dari seleksi di kandang hingga
selama proses penetasan. Fungsinya
adalah membunuh bibit penyakit dan
mencegah tumbuhnya jamur
Aspergillus.
Telur tetas yang berasal dari
kandang indukan harus diseleksi
dengan kualifikasi bukan telur inap
dan tingkat kekotoran. Bahkan telur
yang meski tingkat kekotorannya
masih ditoleransi tetap
dikelompokkan tersendiri agar tidak
“mengganggu” kualitas telur yang
lain.
Selama proses penetasan sistem
ventilasi juga harus diperhatikan.
Kipas penarik udara dari luar harus
dipastikan bekerja normal. Jika tidak,
udara yang diambil juga udara panas
Pemanasan yang tidak merata atau
terlalu panas akan membuat DOC
tetas prematur. Imbasnya, jarak
waktu pull chick juga lebih panjang.
DOC yang terlalu lama di penetasan
akan mengalami dehidrasi, kaki
kering dan selanjutnya memengaruhi
keseragaman dan pertumbuhan di
level budidaya. Faktor yang lain
adalah memperhatikan titik krusial
dalam penetasan, yakni tiga hari
sebelum menetas di mana mulai
berfungsinya paru-paru sebagai
organ pernafasan. Pada saat itu,
sirkulasi udara dan fluktuasi suhu di
dalam hatchery harus benar-benar
terkontrol dengan baik.
Umpan Balik Pelanggan
Apapun yang kita lakukan semuanya
berujung pada
kepuasan pelanggan
atau konsumen.Baik buruknya
kualitas DOC yang dihasilkan suatu
breeding farm adalah mampu
menujukkan performanya ketika
dipelihara. Hal ini bisa kita ketahui
hasilnya jika ada masukan dari
konsumen bibit unggas yang kita
produksi. Jika selama dipelihara
memiliki performa yang buruk, maka
perlu ada intropeksi terhadap
manajemen budidaya. Oleh
karenanya, perlu ada standarisasi
selama budidaya terutama mulai
DOC datang hingga selama fase
brooding. Namun jika semua hal
yang dilakukan oleh peternak sudah
benar, maka perlu ada kontrol di
level breeding
.(Galeriukm).
Sumber:

http://www.poultryindonesia.com/

modules.php?
name=News&file=article&sid=1451

Galeriukm

Mengenal Berbagai Macam Mesin Penetas Telur


penetasanBidang usaha di bidang
telur merupakan peluang usaha
yang cukup terbuka, baik itu telur
ayam, telur itik, telur puyuh dan
telur unggas lainnya. Penetasan telur
yang sudah banyak dilakukan
masyarakat adalah dengan
cara
alami dengan memanfaatkan
unggas
. Akan tetapi pada usaha budi
daya modern telah menggunakan
Mesin Penetas Telur
. Ada berbagai
macam mesin penetas telur yang
bisa dipergunakan dalam bisnis ini.
Tentu setiap jenis mesin tetas telur
memiliki karakteristik dan cara
pengoperasian sendiri-sendiri. Selain
faktor mesin penetas yang baik ,
majanemen penetasan yang baik
juga turut mendukung mendukung
kesuksesan bisnis ini.
Tidak hanya untuk kepentingan bisnis
saja, penetasan telur juga dilakukan
oleh para hobis unggas baik unggas
biasa maupun unggas hias seperti
ayam mutiara, burung perkutut dan
lain-lain. Menetaskan telur dengan
cara alami menggunakan induk
hewan merupakan cara yang mudah
dan relatif tidak memerlukan
keahlian khusus. Tetapi menetaskan
telur dengan mesin penetas
memerlukan sedikit pemahaman dari
mulai pengenalan mesin, operasional
mesin penetas hingga manajemen
penetasan. Pada kesempatan ini
akan dibahas mengenai pengenalan
mesin penetas sebagai bahan
pertimbangan dalam usaha
Penetasan Telur.
Menetaskan telur dengan mesin
penetas biasanya dilakukan oleh
peternak dengan pertimbangan
memberi kesempatan kepada induk
unggas untuk bertelur lebih banyak
tanpa dibebani tugas mengeram,
selain itu dengan mesin tetas dapat
dilakukan penetasan telur dalam
jumlah banyak pada satu waktu.
Usaha penetasan telur ini dapat
dilakukan sebagai usaha sambilan
maupun usaha pokok dalam skala
besar maupun Usaha Kecil
Menengah (UKM).
Untuk tujuan bisnis usaha penetasan
telur dengan mesin penetas adalah
mendapatkan bibit unggas dengan
prosentase tetas tinggi dan
berkualitas unggul. Biasanya
penetasan telur skala besar
dilakukan oleh farm yang sudah
memiliki mesin penetas modern
dengan beberapa perlengkapan. Jika
ingin serius menekuni bisnis ini
diperlukan analisis usaha penetasan
telur dan pemilihan mesin penetas
secara cermat. Salah satu analisis
usaha penetasan telur adalah
memperhatikan beberapa aspek
antara lain bibit yang baik dan mesin
tetas yang baik. Mesin penetas yang
baik adalah yang mampu memiliki
prosentase penetasan tinggi, efisien
daya dan mudah dioperasikan. Ini
memerlukan pemahaman tentang
seluk beluk mesin penetas.
Hal-hal yang perlu menjadi
pertimbangan dalam memilih mesin
Penetas Telur
Ada beberapa hal dan perlengkapan
mesin penetas yang perlu diketahui
sebelum memulai usaha penetasan
telur sebagai berikut:
Bahan Mesin Penetas
Pada prinsipnya mesin tetas dapat
dibuat sendiri maupun dapat
membeli produk yang sudah jadi.
Membuat sendiri mungkin bisa
menghemat biaya , tetapi masalah
kualitas dan daya tetas masih perlu
diuji. Jika memilih membeli maka
pilihlah mesin tetas yang sudah teruji
kualitasnya, ada baiknya bertanya
dan berbagi pengalaman dengan
orang lain yang sudah menekuni
usaha ini. Bahan yang dipergunakan
untuk membuat mesin tetas adalah
bahan yang mampu menahan panas
yang cukup lama
dan tidak mudah
terpengaruh cuaca di luar ruangan,
biasanya dipilih bahan
Multiplex dan
kayu. Selain itu dipilih bahan yang
tidak mudah berubah karena
perubahan suhu udara
. Kayu-kayu
jenis tertentu akan melengkung jika
suhu berubah sehingga menjadi tidak
rapat.
Kapasitas Dan Daya Mesin Penetas
Kapasitas mesin penetas perlu
disesuaikan dengan kebutuhan
penetasan, kapasitas mesin tetas
untuk keperluan penetasan biasanya
tersedia dari mulai kapasitas sekitar
40 butir telur sampai ribuan. Semakin
besar kapasitas telur yang dapat
ditetaskan semakin besar daya listrik
yang diperlukan. Jika kebutuhan
penetasan hanya kecil tidak perlu
membeli mesin penetas yang
berukuran besar karena boros daya.
Sumber Daya biasanya bersumber
dari bolam lampu listrik yang
dilengkapi dengan cerobong untuk
penempatan cadangan lampu
minyak. Perhatikan juga letak
sumber lampu, lebih baik lampu
dengan daya kecil tetapi merata
dibandingkan dengan lampu berdaya
besar tetapi terkumpul dalam satu
tempat. Hal ini menyebabkan panas
tidak merata di seluruh ruangan, ada
bagian ruangan yang terlalu panas
dan ada yang kurang panas. Hal ini
tidak baik bagi kualitas penetasan.
Mesin penetas yang baik adalah yang
memiliki pemyebaran panas yang
merata. Pada mesin penetas besar
dan bagus dilengkapi dengan
semacam blower untuk meratakan
panas.
Pengatur Panas Dan Rak Telur
Suhu ruangan dalam mesin tetas
diupayakan selalu stabil dan tidak
terpengaruh oleh udara luar,sekitar
37-38 derajat Celcius. Untuk
memastikan hal tersebut diperlukan
termometer ruangan sebagai
pengukur suhu dan thermostat untuk
mengontrol suhu ruangan.
Thermostat sederhana menggunakan
cairan yang dikemas dalam bentuk
kapsul, jika panas maka kapsul akan
mengembang dan menekan
mikroswitch untuk mematikan
lampu, jika sudah dingin akan
mengempis sehingga mikroswitch
akan bebas dan lampu menyala
kembali. Setting thermostat jenis ini
dilakukan dengan cara manual
dengan mengatur jarak antara
kapsul dan mikroswitch. Thermostat
modern menggunakan sensor suhu
yang sudah di setting sebelumnya.
Selain itu Mesin penetas dilengkapi
dengan Termometer untuk
mengukur suhu ruangan. Biasanya
sudah include saat membeli mesin
tetas.
Kapsul Regulator
Pada Mesin Penetas
Telur Biasa
Rak telur merupakan tempat untuk
meletakkan telur-telur dalam ruang
Mesin penetas telur , rak telur yang
baik tidak boleh terlalu rapat agar
sirkulasi udara baik dan menjamin
telur tidak mudah menggelinding dan
bergerak. Selain itu rak telur harus
bisa ditarik keluar agar mudah pada
saat membalik telur, membersihkan
dan mengangin-anginkan telur.
Untuk menjamin kelembaban udara
dalam ruang Mesin Penetas Telur/
inkubator diperlukan
bak air dan
Hygrometer untuk mengukur
kelembaban udara. Bak air
diperlukan untuk menambah
kelembaban udara dalam ruangan,
pada penetasan telur itik diperlukan
kelembaban udara yang cukup tingi.
Hygrometer biasanya bersifat
optional dan jarang include dengan
mesin tetas karena harganya cukup
mahal.
HYGRO-CONTROL Koleksi
Glory Farm
Model Pemutaran Telur
Salah satu faktor penting dalam
kesuksesan usaha penetasan telur
adalah pemutaran atau membolak-
balik telur. Frekuensi pemutaran
telur sangat menentukan daya tetas
telur, minimal dalam sehari
dilakukan pemutaran telur dua kali.
Idealnya dalam sehari dilakukan
enam kali . Ada beberapa berapa
jenis mesin penetas bersadarkan
model pemutaran telur:
Cara Manual, dilakukan dengan
membalik telur satu persatu
dengan membuka ruangan
inkubator. Untuk jumah telur
yang banyak sangat tidak
efektif dan memerlukan tenaga
yang besar. Biasanya dilakukan
pada mesin-mesin penetas
sederhana untuk hobis.
Mesin Penetas Manual
Koleksi Glory Farm
Cara Semi Otomatis, dilengkapi
dengan semacam tuas pemutar
di luar mesin penetas. Untuk
membalik tidak perlu membuka
ruangan inkubator cukup
dengan memutar tuas. Rak
Telur biasanya didesain
sedemikian rupa agar saat
diputar tidak terjatuh. Cara ini
relatif lebih baik dibandingkan
dengan cara manual.
Cara Otomatis, Mesin penetas
dilengkapi dengan Timer dan
desain yang memungkinkan
telur-telur dapat diputar secara
otomatis berdasarkan timer
yang sudah di setting
sebelumnya. Dengan Mesin
Penetas model ini akan
mengurangi tenaga manusia
secara significant dalam proses
pembalikan telur. Frekuensi
pembalikan dapat lebih
terjamin sesuai dengan
frekuensi ideal. Dengan model
otomatis daya tetas juga
semakin tinggi.
Mesin Penetas Full
Otomatis Koleksi Glory
Farm
Faktor lain yang mempengaruhi
keberhasilan adalah ketelitian kita
menganalisa setiap fase
perkembangan telur-telur dari mulai
dimasukkan saampai menetas.

Sumber: Galeriukm

Usaha Penetasan Telur Itik


merupakan kegiatan yang
Usaha penetasan telur itik atau
bebek
sudah dilakukan peternak sejak
bertahun-tahun. Akan tetapi pola
penetasan petani masih
menggunakan cara alami dengan
memanfaatkan ayam atau entok
sebagai sarana penetasan. Metode
penetasan telur itik yang lebih
modern menggunakan
Mesin Tetas
telur itik atau bebek dengan
berbagai macam model. Peluang
usaha di bidang penetasan telur itik
cukup terbuka.
Itik atau bebek
merupakan hewan unggas yang
sudah cukup populer di masyarakat
kita. Tidak hanya
telur asin saja yang
dapat dibuat dari telur itik, ada
banyak aneka makanan yang dibuat
dengan bahan dasar telur itik. Selain
telur itik yang dimanfaatkan sebagai
aneka makanan, daging itik juga
cukup banyak digemari oleh
masyarakat. Diantara makanan dari
daging itik adalah bebek
goreng,
bebek bakar, rica-rica bebek kremes
dan lain sebagainya.
Dengandemikian peluang usaha dari
unggas ini cukup terbuka lebar bagi
pengusaha yang berminat
menggelutinya. Tidak hanya dari
sektor pengolahan hasil ternakan itik
saja tetapi juga dari bisnis-bisnis
lainnya, diantaranya penyediaan bibit
itik yang berkualitas.
Penyediaan
bibit itik dapat dilakukan dengan
cara konvensional melalui
pengeraman indukan ayam dan
penetasan telur itik dengan
mesin
tetas telur. Untuk skala besar dan
tujuan bisnis tentu tidak mungkin kita
menggunakan ayam sebagai alat
penetas telur. Maka peluang Usaha
Penetasan Telur Itik dengan
menggunakan Mesin Peneta
s
merupakan alternatif yang akan
dibahas.
Usaha bisnis penetasan telur itik
sebenarnya cukup memiliki potensi
mendatangkan keuntungan. Selain
manajemen produksi yang baik
diperlukan pula
manajemen
penetasan berdasarkan kualitas hasil
tetasan yang baik
.Peluang bisnis
penetasan telur itik ini dapat
dilakukan pada skala rumah tangga
dan kelompok usaha kecil dan
menengah (UKM). Karena proses
dan perlengkapan yang cukup
sederhana. Selain itu harga mesin
penetas telur itik juga cukup
terjangkau ada yang berharga murah
dan ada yang berharga cukup mahal,
tinggal menyesuaikan dengan
kebutuhan saja.
Mengenai ragam
mesin penetas telur dapat dilihat
pada tulisan ini
. Gambaran potensi
peluang usaha ini dapat dilihat dari
harga
DOD ( Day Old Duck) betina
biasanya dihargai sampai lima kali
harga telur. Sedangkan untuk DOD
jantan dihargai sama atau maksimal
dua kali harga telur yang belum
menetas. Tingkat daya tetas
menggunakan mesin tetas memang
lebih rendah jika dibandingkan
dengan cara alami dengan indukan
ayam.
Pengeraman dengan ayam
daya tetas bisa mencapai 90 s/d
100%
, sedangkan dengan mesin tetas
daya tetas berkisar 75% sampai
dengan 90%,
tergantung berbagai
macam faktor. Jumlah telur itik yang
menetas juga masih perlu diseleksi
jenis kelamin jantan dan betinanya.
Sulit memprediksikan jenis kelamin
telur yang menetas kadang lebih
banyak betina , kadang lebih banyak
jantan dan kadang sama. Untuk lebih
mudahnya karena peluang jantan
dan betina sama maka diasumsikan
DOD yang dihasilkan pada model
penetasan telur itik dengan mesin
penetas ini adalah
Jantan : Betina
50:50. Peluang 50:50 ini tidak ada
perbedaan antara penetasan telur
dengan cara alami dengan penetasan
telur dengan mesin penetas,
peluangnya sama saja.
Persiapan Usaha Penetasan Telur Itik
1. Persiapan Tempat
Salah satu faktor yang mendukung
keberhasilan usaha penetasan telur
itik mengunakan mesin penetas
adalah faktor tempat. Tempat untuk
penempatan mesin tetas diusahakan
tidak terkena matahari secara
langsung dan tidak terkena angin
secara langsung
. Hal ini untuk
menghindari perubahan suhu yang
cukup ekstrim, yang berkakibat
kurang baiknya daya tetas telur.
Pastikan tempat dan mesin tetas
dalam kondisi yang higienis dan steril
dari kuman dan bakteri. Kuman dan
bakteri akan mengganggu daya tetas
telur. Biasanya sebelum telur-telur
itik dimasukkan ke dalam mesin
penetas, lingkungan dan mesin tetas
disemprot terlebih dahulu
menggunakan disinfectan.
Penyemprotan mengunakan
disinfectan pada tempat dan mesin
penetas membuat bakteri dan
kuman-kuman mati, sehingga aman
bagi kelangsungan hidup embrio itik
dalam telur.
2. Persiapan mesin Tetas
Selain faktor tempat , Kualitas mesin
penetas memiliki peranan yang
cukup penting dalam kesuksesan
usaha penetasan telur itik
ini. Mesin
penetas diupayakan memiliki
lingkungan dan kondisi yang mirip
dengan induk ayam/entok, suhu,
kelembaban dan lain-lain. Pastikan
mesin tetas yang dipilih berkualitas
bagus, rapat tetapi cukup memiliki
ventilasi udara yang baik. Pastikan
juga mesin tetas beroperasi dengan
baik, misalnya suhu ruangan bisa
mencapai
sudu ideal 37-38 derajat C,
dan memiliki termostat sebagai
pengatur suhu. Meski pada rentang
suhu 36 s/d 42 derajat C telur bisa
menetas tetapi suhu optimal
diupayakan pada 38-39 derajat C.
Biasanya pada mesin penetas telur
yang dibeli sudah dilengkapi dengan
termometer ruang, untuk memonitor
suhu dalam ruangan mesin penetas.
Kelembaban udara yang diukur
dengan Hygrometer didalam ruang
mesin penetas (incubator) haruslah
dijaga pada kisaran
55-60% untuk 18
hari pertama di incubator dan lebih
tinggi setelah itu. Mesin Penetas
yang baik dan berharga mahal
biasanya dilengkapi dengan
Hygrometer ini, namun jika tidak
tersedia bisa dibeli sendiri.
3. Pemilihan Telur sebagai Bibit
Dalam manajemen Usaha Penetasan
telur itik pemilihan telur sangat
menentukan daya tetas telur itik
.
Telur itik dipilih dari indukan yang
tidak terkalu muda dan tidak terlalu
tua, dengan rasio Jantan:Betina 1:5
sampai dengan 1:8. Cangkang telur
dipilih yang tidak terlalu tebal
karena akan sulit untuk pecah saat
akan menetas. Cangkang yang
terlalu tipis juga tidak layak untuk
dipilih. Pilih telur yang oval tetapi
jangan terlalu lonjong atau bulat.
Proses Penetasan Telur Itik
1. Pemasukan Telur
Pemasukan Telur
ke dalam mesin
tetas hendaknya dilakukan pada saat
mesin tetas benar-benar siap untuk
dipergunakan
, antara lain suhu
sudah sesuai dengan standard,
kelembapan udara juga demikian.
Sebelum dimasukkan kedalam mesin
penetas telur dicuci dengan air
hangat suam-suam kuku, agar
kotoran dan bakteri yang menempel
pada telur hilang. Selain itu telur
yang bersih memudahkan kita
mengamati perkembangan anakan
itik dalam telur. Selama 3 hari
pertama telur kita diamkan dalam
mesin penetas dan tidak usah dibuka.
Letakkan bagian yang runcing di
bagian bawah, bagian yang
mengandung rongga udara di posisi
atas, jika di dalam mesin penetas
tidak terdapat tatakan telur, bisa
dibuat sekat-sekat dengan kayu atau
bilah bambu agar telur tidak
menggelinding dan mudah diatur
dalam mesin penetas. Jika telur
mudah bergerak dan menggelinding
bebas di dalam mesin penetas, akan
sulit dikontrol telur yang sudah
dibalik atau belum.
2. Pengeraman Telur
Setelah 3 hari biasanya sudah bisa
kita lihat telur-telur yang memiliki
benih atau tidak
. Telur yang tidak
memiliki benih itik biasanya karena
tidak dibuahi oleh itik jantan. Telur
yang tidak dibuahi tidak akan
menetas sehingga perlu kita afkir
untuk dikonsumsi dan masih bisa
dijual atau dijadikan makanan. Telur
yang Memasuki hari keempat sampai
hari ke 25 , telur itik sudah harus
kita bolak-balik sehari 2 sampai 6
kali
, frekuansi pemutaran telur akan
berpengaruh pada daya tetas telur.
Semakin sering akan semakin baik.
Pada hari keempat tersebut
telur
perlu diangin-anginkan dengan cara
membuka tutup mesin penetas
selama kurang lebih 10 sampai
dengan 15 menit
. Proses mengangin-
anginkan telur ini perlu dilakukan
seriap 3 sampai 4 hari sekali sampai
hari ke 25. Dalam masa pengeraman
ini yang perlu diperhatikan selain
suhu dijaga supaya tetap konstan
adalah kelembapan udara. Jika
kelembapan dirasa kurang bisa
ditambahkan dengan
menyemprotkan air hangat ke telur-
telur. Untuk memudahkan
mengontrol telur sudah dibalik atau
belum, beri tanda dengan spidol
pada tiap-tiap sisi telur, misalnya sisi
bawah diberi tanda A sisi atas diberi
tanda B.
3. Masa Menetas
Telur itik akan mulai pecah sedikit
demi sedikit, pada hari ke 26 sudah
mulai terdengar suara
dan cangkang
yang terbuka pada bagian paruhnya.
Pada
hari ke 28 telur dalam mesin
penetas yang normal sudah akan
menetas semuanya. Perlu dicermati,
jika ada telur yang susa pecah, perlu
dibantu mengelupas dengan tangan
tetapi harus hati-hati. Biasanya
karena cangkang terlalu tebal.
Anakan itik yang sudah menetas
perlu segera dipindahkan ke tempat
lain yang suhunya hampir sama
dengan suhu ruang penetasan.
Bersihkan ruang mesin penetas dari
cangkang dan kotoran-kotoran
lainnya agar tidak menggangu telur
yang belum menetas.
4. Seleksi DOD
Anakan itik yang berusia 1 sampai 4
hari lebih mudah dibedakan jenis
kelaminnya dibandingkan dengan
anakan itik berusia satu minggu.
Warna itik betina lebih terang dan
bersih, sedangkan itik jantan lebih
gelap
. Jika diperhatikan suara anak
itik betina lebih melengking. Cara
lain adalah dengan melihat melalui
anus dengan cara menekannya,
meski cara ini cukup membuat itik
tersiksa tapi cukup efektif. Itik jantan
terlihat memiliki alat kelamin yang
menonjol. Untuk membedakan
anakan itik jantan dan betina bisa
dilihat dari warna paruhnya. Itik
Jantan cenderung lebih berwarna
gelap sedang itik betina berwarna
terang.
Analisa Bisnis
Meskipun ini adalah hitung-hitungan
kasar tetapi bisa dipergunakan untuk
menganalisa gambaran usaha
penetasan telur itik ini. Diasumsikan
kita akan menetaskan telur itik
sejumlah 100 butir. Telur itik akan
menetas dalam waktu 28 hari.
Biaya Yang dikeluarkan:
100 butir telur @Rp
1000 = Rp 100.000
Listrik 28 Hari
= Ro 15.000
Operasional
= Rp 15.000
Total
Pengeluaran
=
Rp 130.000
Hasil Yang diperoleh:
DOD Menetas diasumsikan 75% atau
75 ekor anakan itik (DOD) dari 75
ekor tersebut 38 Betina dan 37
Jantan.
38 ekor DOD
Betina @Rp 5000 =
Rp 190.000
37 ekor DOD
Jantan @Rp 1500 =
Rp 55.500
Total
hasil
=
Rp 245.500
Keuntungan yang diperoleh dari 100
butir telur itik selama sebulan Rp
245.500 – 130.000 =
Rp 115.500. Jika
jumlah telur yang dierami 1000 butir
keuntungan yang bisa diperoleh juga
10 kali lipat dari itu yaitu
Rp
1.115.500. Selamat Mencoba.

Sumber: galeriukm

Usaha Penetasan Telur Ayam


Ayam merupakan unggas yang sudah
cukup familiar dengan kehidupan
kita, produk-produk makanan dan
lauk pauk yang berbahan dasar
ayam banyak ditemukan di sekitar
kita dan banyak digemari. Boleh
dikatakan Ayam dengan berbagai
variannya seperti daging dan telur
telah menjadi kebutuhan “pokok”
hidup kita sehari-hari. Tidak heran
jika
bisnis ayam telah menjadi
gantungan hidup banyak orang,
karena memang
memiliki peluang
usaha yang cukup luas. Banyak
bidang yang bisa ditekuni dari usaha
pada komoditas ini diantaranya
budi
daya ayam petelur, budi daya ayam
pedaging, penyediaan bibit ayam
dan
lain sebagainya. Pada kesempatan ini
akan dibahas
Analisa Usaha
Penetasan Telur Ayam, yang
merupakan bagian dari penyediaan
bibit ayam. Melengkapi tulisan
terdahulu mengenai
Analisa Usaha
Penetasan Telur Itik.
Usaha penetasan ini dilakukan
dengan menggunakan mesin penetas
bukan dengan cara alami
menggunakan induk ayam, karena
dari segi ekonomis lebih
memungkinkan dikembangkan
sebagai sebuah usaha. Penetasan
telur ayam sebenarnya lebih mudah
dibandingkan dengan penetasan
telur itik, pada penetasan telur itik
diperlukan kelembaban udara yang
lebih tinggi sedangkan pada
penetasan telur ayam lebih rendah.
Dari segi waktu , telur ayam akan
menetas setelah dierami selama 21
hari
sedangkan telur ituk 28 hari.
Dengan demikian dari segi biaya
operasional akan lebih murah usaha
penetasan telur ayam ini. Sama
dengan usaha penetasan telur itik,
usaha penetasan telur ayam dapat
dilakukan sebagai
usaha sampingan
rumah tangga, sebagai usaha profit
oriented skala
Usaha Kecil dan
Menengah maupun usaha besar.
Akan tetapi kesemuanya itu harus
dilakukan dengan baik dengan
pendekatan
Majanemen Penetasan
telur berbasis kualitas dan mutu
yang baik
.
Sebelum memulai usaha penetasan
telur ayam ini perlu dipertimbangkan
terlebih dahulu jenis telur ayam apa
yang akan ditetaskan. Ada beberapa
kebutuhan pasar ayam antara lain
ayam petelur, ayam pedaging,ayam
kampung, ayam hias (cemani, ayam
mutiara, ayam kate dan lain-lain)
.
Masing-masing memiliki kelemahan
dan kelebihan, tetapi dari segi
manajemen penetasan dan
operasionalnya hampir sama.
Misalnya saja ayam pedaging dan
ayam petelur, biasanya kelompok
ayam ini dipelihara dalam jumlah
yang besar oleh satu peternak,
jumlahnya mencapai ribuan sehingga
kebutuhan akan
DOC (Day Old
Chicken) juga besar. Daging dan
telur kelompok ayam ini
cukupbanyak diminta oleh pasar.
Akan tetapi biasanya peternak sudah
mendapat suplai bibit dari industri
DOC besar, sehingga bagi Usaha
Kecil di bidang ini harus mampu
bersaing dengan industri penetasan
telur yang besar.
Ayam kampung nampaknya lebih
memiliki peluang usaha bagi
kelompok usaha kecil, permintaan
daging ayam kampung dan telurnya
juga cukup besar, tetapi pemain
besar belum begitu banyak terjun
dalam bidang ini.
Ayam hias
sebenarnya juga memiliki potensi
cukup lumayan untuk ditekuni, meski
pasar ayam hias tidak seluas untuk
kebutuhan konsumsi. Harga anakan
maupun ayam hias yang sudah
dewasa relatif lebih mahal
dibandingkan dengan ayam
konsumsi. Dengan Biaya Operasional
penetasan yang hampir sama tetapi
harganya lebih mahal, hal ini
merupakan peluang untuk ditekuni.
Persiapan Penetasan Telur Ayam
Persiapan dalam usaha penatasan
telur ayam meliputi beberapa hal
antara lain :
Persiapan Tempat, Tempat
untuk penetasan diupayakan
cukup luas dengan tidak
terkena panas matahari secara
langsung dan tidak terkena
angin yang dapat menyebabkan
perubahan suhu secara
mencolok. Selain itu
diupayakan lingkungan tempat
penetasan memiliki sanitasi
yang bagus dan tidak
mengandung bibit-bibit
penyakit. Sanitasi yang buruk
akan mempengaruhi prosentase
penetasan.
Persiapan Mesin Penetas,
Pilihlah mesin penetas telur
yang baik dan sesuai dengan
kebutuhan. Mesin tetas yang
baik adalah yang memiliki
prosentase penetasan yang
tinggi, walaupun prosentase
penetasan yang tinggi tidak
hanya dipengaruhi oleh mesin
penetas saja, tetapi juga oleh
bibit yang baik, pemeliharaan
dan lain-lain. Mesin penetas
telur juga harus disesuaikan
dengan kebutuhan, jika
kebutuhan penetasan telur
hanya 100 butir per periode,
tidak efektif kalau kita gunakan
mesin penetas berkapasitas 500
butir. Periksa dengan seksama
kelengkapan mesin tetas dan
pastikan dapat beroperasi
dengan baik dengan suhu dan
kelembaban yang tepat
sebelum telur dimasukkan.
Untuk
Panduan mengenali
mesin tetas ada baiknya dibaca
tulisan ini
. Suhu ideal ruang
mesin tetas pada kisaran 37-38
derajat Celcius, meski telur
dapat menetas pada suhu
antara 36 sampai dengan 40
derajat celsius.
Persiapan Telur dan indukan,
Carilah indukan yang memiliki
umur yang cukup, tidak terlalu
tua dan tidak terlalu muda,
selain itu diupayakan telur
tidak disimpan terlalu lama.
Semakin lama telur disimpan
sebelum dieramkan akan
menurun tdaya tetasnya.
Diupayakan telur tidak
disimpan lebih dari satu minggu
sebelum ditetaskan.
Proses Penetasan Telur Ayam
Proses penetasan telur ayam tidak
jauh berdeda dengan penetasan telur
itik, hanya pada penetasan telur
ayam tidak perlu melakukan
penyemprotan dengan air hangat
untuk menambah kelembaban ruang
mesin tetas.
1. Pemasukan Telur
Pemasukan Telur ke dalam mesin
tetas setelah dipastikan mesin tetas
benar-benar siap untuk
dipergunakan, parameter kesiapan
mesin tetas adalah suhu sudah
sesuai dengan standard, kelembapan
udara cukup ideal, tidak ada lubang
yang akan mengurangi performa
mesin tetas Sebelumnya mesin tetas
telah disemprot dengan disinfectant
terlebih dahulu. Bersihkan telur-telur
ayam dari berbagai macam kotoran
dan bakteri. Telur yang bersih
menghindarkan embrio mati karena
bakteri dan mudah untuk diamati
perkembangannya. Pengamatan
embrio dapat dilakukan dengan
teropong lampu pijar, pada usia 4
hari embrio yang berkembang akan
nampak seperti akar-akar pohon
berwarna merah, sedang embrio
yang tidak berkembang atau telur
tidak mengandung bibit ayam akan
tampak bening.
Selama 3 hari
pertama telur didiamkan dalam
mesin tetas dan tidak usah dibuka
dan tidak dilakukan pembalikan
telur. Cukup diamati suhu di dalam
ruangan, jika suhu sudah konstan di
nilai ideal biarkan saja, jika tidak
perlu disesuaikan.
2. Pengeraman Telur
Setelah 3 hari sudah bisa dilihat
telur-telur yang memiliki benih atau
tidak. Telur yang tidak memiliki
benih ayam perlu disortir karena
tidak akan menetas, telur ini masih
bisa untuk dikonsumsi dan masih bisa
dijual atau dijadikan makanan.
Memasuki hari keempat sampai hari
ke 18
, telur ayam sudah harus kita
bolak-balik sehari 2 sampai 4
kali,bahkan 6 kali,
frekuansi
pemutaran telur akan berpengaruh
pada daya tetas telur. Semakin
sering akan semakin baik. Pada hari
keempat tersebut
telur perlu
diangin-anginkan dengan cara
membuka tutup mesin penetas
selama kurang lebih 10 sampai
dengan 15 menit
. Proses mengangin-
anginkan telur ini perlu dilakukan
seriap 3 sampai 4 hari sekali sampai
hari ke 18. Dalam masa pengeraman
ini yang perlu diperhatikan selain
suhu dijaga supaya tetap konstan
adalah kelembapan udara. Jika
kelembapan dirasa kurang bisa
ditambahkan dengan
menyemprotkan air hangat ke telur-
telur. Pada Penetasan telur ayam hal
ini jarang perlu dilakukan.
3. Masa Menetas
Pada hari ke 18 telur sudah tidak
perlu lagi dibolak-balik
, diamkan
dalam mesin tetas, mesin tetas
ditutup dan cukup dikontrol
parameter suhu ruangan dan
kelembabannya.
Setelah hari ke 21
telur ayam sudah menetas, bahkan
di hari ke 20 kemungkinan sudah ada
yang menetas. Segera pindahkan
anakan ayam yang menetas ke
ruangan lain agar tidak mengganggu
telur yang belum menetas. Yang
perlu diperhatikan
anak ayam
dipindahkan pada ruangan yang
memiliki suhu hampir sama dengan
suhu di dalam ruang penetas
, seiring
dengan bertabhnya usia suhu
perlahan-lahan diturunkan. Anak
ayam yang baru menetas masih
menggunakan energi dari makanan
cadangan dari telur, sedikit demi
sedikit dilatih makan dengan
menaburkan makanan di bulu-
bulunya. Setelah cukup kuat anakan
ayam siap dijual atau dipelihara.

Sumber: galeriukm

Ternak Itik Raja & Itik Ratu


Upaya meningkatkan
produktivitas dan efisiensi
hasil ternak terus
dilakukan, salah satunya
dengan menghasilkan
varian hibrida.
Itik Raja
dan Itik Ratu merupakan
varian yang relatif baru
dalam dunia unggas. Itik
hasil persilangan antara
itik Mojosari Jantan dan
Itik Alabio betina
ini
memiliki pertumbuhan
yang cukup cepat.
Pertumbuhan itik yang
cepat ini membuat gairah
peternakan itik semakin
baik dan kesejahteraan
meningkat.
Secara fisik postur itik
Raja tampak lebih besar,
dengan bentuk badan
yang menyerupai botol.
Pada usia 6 minggu bobt
itik Raja sudah mencapai
1.3 Kg(1300 gram). Jika
dibandingkan dengan Itik
alabio pada usia yang
sama baru mencapai
bobot sekitar 767,5 gram
dan itik mojosari sekitar
660 gram ( Sumber
Agrina).
Selain pertumbuhannya
yang cepat itik Raja dan
Ratu memiliki tingkat
efisiensi pakan (Food
Convertion Ratio) yang
sangat baik yaitu sekitar
1.24. Keunggulan lain itik
hibrida ini adalah daya
tahan terhadap penyakit
yang cukup baik,
sehingga menekan resiko
kematian.
Pertumbuhan yang cepat
ini diharapkan dapat
mensuplai kebutuhan
daging itik yang selama
ini mengandalkan
pasokan bebek afkir.
Keuntungan bisnis ternak
itik Raja dan Ratu ini
memang cukuo
menggiurkan , untuk satu
ekor itik bisa
mendatangkan
keuntungan 7500 rupiah
dalam masa
pemeliharaan sekitar
45-50 hari. Biaya
pemeliharaan sekitar
10000 dan harga jual
pada usia tersebut 17500
rupiah.
Ternak itik Raja dan ratu
ini saat ini masih
menemui beberapa
kendala masih
terbatasnya pasokan
bibit. Saat ini untuk
daerah Sleman
Yogyakarta, masih harus
mendatangkan bibit
(DOD) dari Kalimantan
Selatan. Sehingga selain
masalah jumlah yang
terbatas harga DOD
menjadi lebih mahal.

Sumber: Galeriukm

Ayam Arab Penghasil Telur Yang Produktif


Ayam arab merupakan
jenis ayam dalam
kategori buras (bukan
Ras). Karena kemampuan
produktivitas telur yang
tinggi maka banyak
orang membudidayakan
ayam arab sebagai ayam
petelur. Berbeda dengan
ayam petelur, telur ayam
arab dihargai seperti
layaknya telur dengan
ayam kampung yang
dihitung per biji bukan
per kilogram. Konon
ayam arab ini dulunya di
bawa oleh orang
Indonesia yang sedang
menunaikan ibadah haji
di Arab, hingga sekarang
beranak pinak.
Selain memiliki
kemampuan bertelur
yang tinggi yaitu sekitar
190-250 butir per tahun,
ayam arab jantan
memiliki kemampuan
seksual yang tinggi
sehingga banyak dipakai
sebagai ayam pejantan.
Keturunan ayam silangan
ayam arab ini juga masih
memiliki produktivitas
yang tinggi.
Hal lain yang membuat
ternak ayam arab cukup
menguntungkan adalah
ukuran tubuh ayam arab
yang kecil. Jika
dibandingkan dengan
ayam petelur atau ayam
kampung ukuran ayam
arab lebih kecil. Ukuran
ayam arab yang kecil
membuat pengeluaran
untuk pakan ayam lebih
sedikit, sehingga biaya
produksi lebih sedikit.
Teknik Pemeliharaan
Ayam Arab Petelur
Ayam arab mulai
bertelur pada usia sekitar
4.5 bulan, pemeliharaan
di awal juga berpengaruh
pada masa mulai
bertelur. Pemeliharaan
ayam arab petelur bisa
dilakukan dengan
kandang sistem terbatas
atau sistem battery.
Sistem battery lebih
hemat tempat dan
memudahkan
pemeliharaan dan
mengontrol ayam arab
agar tidak terjangkit
penyakit.
Pakan ayam arab terdiri
atas konsentrat petelur
dengan kandungan
protein 17%, jagung giling
dan dedak dengan rasio
3:2:1. Dalam sehari ayam
arab petelur dewasa
memerlukan bobot
makanan maksimal 100
gram. Jika makanan
berlebih maka akan
membuat ayam arab
terlalu gemuk dan
produktivitasnya justru
menurun. Pada sistem
battery pemberian
makanan ini dapat
dengan mudah dikontrol.
Ayam Arab cukup sensitif
terhadap respon pakan,
jika hanya diberi dedak
saja, produktivitas telur
hanya tercapai sekitar
10-15%. Jika terus
menerus demikian ayam-
ayam kemudian tidak
dapat menghasilkan
telur. Untuk memulihkan
kondisinya membutuhkan
waktu kurang lebih 1
minggu, perbaikan
pemberian pakan baru
akan memberikan
dampak produksi, yaitu
ayam-ayam akan bertelur
kembali.
Demikian pula dengan
pakan dengan kandungan
protein yang rendah (di
bawah jumlah
kebutuhannya)
menyebabkan ayam tidak
bertelur. Penurunan
produktivitas bisa
mencapai 50%, hal ini
sangat merugikan bagi
usaha ternak ayam arab.
Selain makanan hal lain
yang penting untuk
diperhatikan adalah
minuman untuk ayam
arab, minuman idealnya
diberikan dengan wadah
tersendiri. Untuk
menambah produktivitas
telur ayam arab,pada
minuman biasanya
ditambahkan egg
stimulan. Selamat
Mencoba.
Sumber: Galeriukm

Budidaya Cacing Sutra


Bagi penghobi ikan hias
atau peternak ikan benih,
Cacing sutra (Tubifex)
atau cacing darah sudah
tidak asing lagi. Karena
cacing sutera merupakan
sumber makanan yang
memiliki nilai gizi yang
tingi bagi ikan-ikan
tersebut. Kandungan
protein cacing sutra yang
mencapai 57% dan lemak
13% membuat benih ikan
akan tumbuh dengan
cepat jika diberi makan
makanan ini. Bagi
penghobi ikan hias,
cacing sutra dipercaya
akan meningkatkan
kualitas warna pada ikan
dan menambah kualitas
ikan tersebut. Harga
cacing sutra di pasaran
sekitar 5000 rupiah per
gelas air mineral atau
sekitar 250 ml.
Permintaan cacing sutra
yang terus meningkat
membuat stok cacing
sutra kekurangan. Hal ini
disebabkan karena suplai
cacing sutra secara
umum masih
mengandalkan tangkapan
alam. Para penangkap
cacing sutra mengambil
cacing-cacing dari sungai
dan kemudian
menjualnya ke peternak
langsung atau ke toko-
toko ikan hias.
Apalagi pada musim
penghujan, saat musim
hujan aliran air pada
sungai cukup deras
sehingga cacing sutra
sulit ditemukan. Kondisi
ini mengakibatkan
pasokan cacing sutra
menurun, banyak
peternak ikan atau
penghobi mengantri
sampai tidak kebagian.
Cacing Sutra
Melihat kondisi ini
budidaya cacing sutra
menjadi pilihan yang
mungkin untuk dilakukan.
Budidaya cacing sutra
tidak hanya memberikan
kemudahan bagi pencari
cacing sutra tetapi juga
meningkatkan
penghasilan. Berdasarkan
penelitian dari Lembaga
Pengabdian Kepada
Masyarakat, Universitas
Negeri Surabaya ,
produksi cacing sutra
hasil budidaya ini
menghasilkan
cacing
sutra dua kali lipat lebih
banyak. Jika pada
penangkapan alam dalam
seminggu dihasilkan 100
gelas cacing sutra maka
dengan budidaya
menghasilkan 200 gelas.
Jika satu gelas cacing
sutra harganya 5000
rupiah, maka
penangkapan alam
menghasilkan
pendapatan 500.000
rupiah sedangkan ,
cacing sutra budidaya
menghasilkan 1 juta
rupiah. Merupakan
peningkatan jumlah yang
lumayan besar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.197 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: